Jati Diri Anak-Anak ALLAH

Bacaan : Roma 8 : 1-11

Setiap orang hidup, memiliki identitas yang mengacu pada ciri-ciri atau keadaan khusus seseorang (jati diri). Ketika seseorang dicari oleh karena sesuatu hal, maka untuk memudahkan pencarian, yang disebutkan pertama adalah ciri-ciri atau jati diri orang tersebut. Seringkali identitas atau jati diri seseorang, dicerminkan dari apa yang melekat pada dirinya. Hal-hal tersebut ialah karakternya, sikap-sikapnya, bahkan seringkali juga dihubungkan dengan seberapa besar kebaikan atau perilaku buruk yang telah dilakukan orang tersebut dalam hidupnya.

Sebagai orang Kristen, kita juga tidak lepas dari apa yang dinilai orang kepada kita, bahwa orang Kristen sangat lekat dengan kata “kasih”. Orang Kristen hidup dengan sikap dan perbuatan yang berlandaskan kasih, maka ketika ada orang Kristen yang hidup tidak menurut hukum kasih, akan menjadi sebuah pertanyaan yang mengherankan bagi orang lain, misalnya, “Orang Kristen tapi kok jahat ya?”  Pertanyaan itu sederhana tetapi mengandung nilai/makna yang cukup dalam, bahwa setelah dimerdekakan oleh Allah dari dosa-dosa kita, di situlah hidup kita harus mencerminkan  sikap dan perbuatan baik, menurut Roh dan bukan menurut daging (ayat 2).

Orang-orang yang percaya kepada Kristus harus sadar bahwa dirinya adalah milik Kristus, bukan milik dirinya sendiri. Tujuan hidup orang-orang percaya, bukanlah untuk menyenangkan dirinya tetapi untuk menyenangkan hati Allah (8-9). Hidup kita hendaknya menurut Roh, dan bukan menurut daging. Ketika kita percaya kepada Kristus, yang telah menebus dosa-dosa kita dengan darahNya yang mahal, maka sudah sepatutnya kita sadar untuk melakukan apapun yang dikehendaki Kristus sebagai pemilik kehidupan kita. Bahkan kita pun disebutNya sebagai anak-anak Allah, “Sebab semua orang yang dipimpin oleh Roh Allah adalah anak-anak Allah.”  (ayat 14).

Hidup sesuai dengan kehendak Tuhan memang tidak mudah, karena dibutuhkan kesabaran, ketekunan dan kekuatan, bahkan penderitaan secara psikis maupun fisik bisa saja terjadi pada diri kita, ketika mengikuti kehendak Tuhan. Akan tetapi jika kita bandingkan dengan kemuliaan yang disediakan Tuhan bagi yang setia kepadaNya, maka sangat jauh perbandingan keduanya.

Sudahkah kita setia untuk hidup menurut Roh? Tuhan memberkati.

%d bloggers like this: