web 6 mei

Allah Tidak Pernah Salah Memilih

Bacaan : Yohanes 15 : 9-17,   Nas: ayat 16-17   Setiap manusia yang telah dipilih oleh Tuhan Yesus diminta agar berbuah. Buah itu …

Bacaan : Yesaya 50:4-7; Mazmur 118:1-2,19-29; Filipi 2: 6-11; Yohanes 12: 12-16

 

Hidup memang tidak lepas dari berbagai tekanan. Lebih-lebih, hidup di alam modern ini yang menyuguhkan beragam risiko. Seorang sosiolog Ulrich Beck menamai jaman kontemporer ini dengan masyarakat risiko (risk society). Alam modern menyuguhkan perubahan cepat dan tak jarang mengagetkan. Tekanan itu sesungguhnya membentuk watak, karakter, dan sekaligus menentukan bagaimana orang bereaksi di kemudian.

Empat tipe manusia dalam menghadapi tekanan hidup: (1) Tipe Kayu Rapuh: Sedikit tekanan saja membuat manusia ini patah arang. Orang ini gampang sekali mengeluh pada saat kesulitan terjadi; (2) Tipe Lempeng Besi: Orang tipe ini biasanya mampu bertahan dalam tekanan pada awalnya. Namun seperti layaknya besi, ketika situasi menekan itu semakin besar dan kompleks, ia mulai bengkok dan tidak stabil. Orang-orang tipe ini mampu menghadapi tekanan, tetapi tidak dalam kondisi berlarut-larut; (3) Tipe kapas: Tipe ini cukup lentur dalam menghadapi tekanan. Saat tekanan tiba, orang mampu bersikap fleksibel. Cobalah kita menekan sebongkah kapas. Ia akan mengikuti tekanan yang terjadi. Ia mampu menyesuaikan saat terjadi tekanan; (4) Tipe Bola Pingpong: Inilah tipe yang ideal dan terhebat. Jangan sekali-kali menyuguhkan tekanan pada orang-orang ini karena tekanan justru akan membuat mereka bekerja lebih giat, lebih termotivasi, dan lebih kreatif. Coba perhatikan bola pingpong. Saat ditekan, justru ia memantul ke atas dengan lebih dahsyat.

Bagaimana dengan kita sebagai umat percaya dalam menghadapi kenyataan hidup?

Tidak semua orang berani menghadapi kenyataan hidup. Ada yang menghindar, ada yang menolak, ada yang menerima dan menghadapi kenyataan hidup dengan berani. Semua itu bergantung pada keyakinan dan prinsip hidup yang dimiliki orang tersebut.

Bacaan Yesaya 50:4-7, Filipi 2:6-11, Yohanes 12:12-16 sama-sama berbicara tentang keberanian menghadapi kenyataan hidup. Hal tersebut ditunjukkan baik oleh Hamba Tuhan dalam Kitab Yesaya maupun oleh Yesus Kristus sendiri. Keberanian tersebut ada karena:

  1. Sadar akan panggilan hidup yang harus dijalani dengan bertanggung jawab dan konsisten menjalaninya apapun risiko yang harus dihadapi. Dengan demikian, keberanian itu bukan asal berani. Tetapi keberanian karena tujuan yang jelas. Segala risiko dan konsekuensi telah diperhitungkan dengan matang sehingga keberanian tersebut betul-betul didasari kesiapan yang matang.
  2. Yakin bahwa Tuhan pasti menolong setiap orang yang melakukan kebenaran. Pujian bahwa Tuhan baik dan senantiasa membela orang benar dikumandangkan juga oleh Sang Pemazmur dalam Maz. 118:1-2;19-29. Pemazmur justru merasakan perbuatan Tuhan yang ajaib ketika manusia konsisten melakukan kebenaran.
  3. Hamba Tuhan tersebut berelasi intim dengan Tuhan. Dalam relasinya tersebut, ia terus menghayati dan merefleksikan keberadaan diri dan karya layannya.Bacaan Filipi 2:6-11 menceritakan bagaimana Allah memuliakan Yesus Kristus yang telah dengan tuntas melaksanakan karya-Nya. Ini menunjukkan bahwa perjuangan hidup yang penuh dengan keberanian di dalam Tuhan akan membuahkan sesuatu yang baik dan mulia.

    “Semua kesulitan, sesungguhnya merupakan kesempatan bagi jiwa kita untuk tumbuh”.

Hadapi Kenyataan Hidup Dengan Berani

Bacaan : Yesaya 50:4-7; Mazmur 118:1-2,19-29; Filipi 2: 6-11; Yohanes 12: 12-16   Hidup memang tidak lepas dari berbagai tekanan. Lebih-lebih, hidup …

Bacaan : Yeremia 31:31-34 | Mazmur 119:9-16 | Ibrani 5:5-10 | Yohanes 12:20-33

 Dalam hidup sehari-hari, dalam relasi antar manusia ketaatan menjadi hal yang sangat penting. Hubungan orang tua dan anak ; Guru dan murid ; pimpinan dan staf, ketaatan juga sangat penting. Demikian halnya hubungan orang percaya dengan Tuhan.

Semua orang sadar, tahu bahwa berlaku taat itu penting dan harus, namun tidak mudah orang mau dan mampu untuk berlaku taat, lebih-lebih taat kepada Tuhan. Itulah sebabnya berlaku taat adalah adalah suatu proses yang senantiasa harus dipelajari  dan diupayakan.

Melalui bangsa Israel, Pemazmur dan juga Yesus, kita ditunjukkan bahwa berlaku taat/setia itu tidak mudah namun perlu bahkan harus. Kepada bangsa Israel (melalui nabi Yeremia) Allah mengajar bagaimana bangsa Israel harus belajar taat, yaitu dengan cara: “Aku akan menaruh TauratKu kedalam batin dan menuliskannya dalam hati mereka” (Yer. 31:33).

Bangsa Israel akan taat kepada Allah apabila Taurat/Firman Allah ada dalam batin dan hati mereka. Mengapa dalam hati? Karena hati adalah sumber dari segala tindakan manusia. Kalau hati manusia dipenuhi firman Allah maka tindakan manusia menjadi pancaran dari firman Allah.

Belajar dan berlaku taat itu penting. Mengapa?

  1. Taat sebagai wujud hormat dan bakti kita kepada Allah
  2. Taat mendatangkan kebahagiaan dan keselamatan

Menurut pemazmur orang yang menyukai menurut Taurat Tuhan adalah orang yang berbahagia, hal ini selaras dengan Yeremia yang mengajarkan kepada umat untuk taat pada Taurat Tuhan, karena dengan taat itu mereka diselamatkan. Ketaatan Yesus melaksanakan karyaNya juga mendatangkan kemuliaan bagiNya.

Melalui bacaan ini kita diajak untuk berlaku taat, sebagai hormat dan bakti kita kepada Tuhan serta supaya oleh ketaatan itu kita berbahagia.

Marilah kita isi batin dan hati kita dengan Firman Tuhan supaya kita dapat berlaku taat. Amin.

Belajar Untuk Taat

Bacaan : Yeremia 31:31-34 | Mazmur 119:9-16 | Ibrani 5:5-10 | Yohanes 12:20-33  Dalam hidup sehari-hari, dalam relasi antar manusia ketaatan menjadi …

Bacaan : Bilangan 21:4-9  |  Mazmur 107:1-3  |  Efesus 2:1-10  |  Yohanes 3:14-21

 Dalam menghadapi dan menjalani hidup setiap orang dituntut atau diharapkan mampu memiliki kecerdasan, yaitu suatu kemampuan menangkap, memahami dan merespon/melakukan dengan baik terhadap sesuatu hal. Dalam hal ini termasuk masalah iman/keyakinan.

Dalam iman orang juga diharapkan mampu menangkap, memahami dan melakukan kehendak Allah dengan benar dalam hidup sehari-hari. Sebagai wujud refleksi imannya.

Beriman bukan sekedar beriman, beriman butuh kecerdasan untuk mampu menangkap, memahami dan melakukan apa yang diimani itu (tidak sekedar pokoke).

Melalui bacaan di atas kita diajak untuk memahami salah satu wujud/refleksi dari kecerdasan hidup beriman, yaitu “Kerendahan Hati”. Orang beriman yang cerdas tentunya tahu bahwa dirinya harus bersikap rendah hati (tidak sombong, tidak merasa dirinya paling pandai, paling rohani dsb).

Mengapa harus rendah hati?

Melalui bacaan di atas kita ditunjukkan tentang siapakah kita (orang percaya) ini. Kita adalah orang-orang yang hidup bukan karena kehebatan, kekuatan, kemampuan kita sendiri. Kita hidup, kita memiliki, kita dapat melakukan segala sesuatu adalah karena kasih setia dan anugerah Allah. Oleh karena itu tidak ada sesuatu hal yang patut kita sombongkan, tetapi justru membawa kita kepada ucapan syukur dan patuh kepada Allah.

Melalui bacaan tersebut kita diajak untuk berefleksi apakah kita adalah orang beriman yang cerdas, yang memiliki sikap rendah hati, hidup penuh syukur, taat kepada Allah, ataukahsebaliknya menjadi orang yang bebal dengan sikap yang sombong, kurang bersyukur bahkan sering memberontak terhadap Allah.

Kiranya kita adalah orang-orang beriman yang cerdas. Tuhan memberkati.

Kerendahan Hati Refleksi Dari Kecerdasan

Bacaan : Bilangan 21:4-9  |  Mazmur 107:1-3  |  Efesus 2:1-10  |  Yohanes 3:14-21  Dalam menghadapi dan menjalani hidup setiap orang dituntut atau …

Bacaan :  Keluaran 20:1-17  |  Mazmur 19  |  1 Korintus 1:18-25  |  Yohanes 2:13-22

 Rombak bait Allah ini, dalam tiga hari aku akan mendirikannya kembali (Yoh 2:19).

Membangun bait Allah dalam tiga hari apakah itu mungkin?Apa yang kelihatan tidak mungkin itulah yang dikatakan oleh Tuhan Yesus, Ia berkata kepada orang-orang Yahudi “Rombak bait Allah ini, dalam tiga hari aku akan mendirikannya kembali (Yoh 2:19).

Orang-orang Yahudi jadi terheran dan tidak bisa percaya. Mereka berpikir apa yang dikatakan oleh Tuhan Yesus adalah suatu hal yang mustahil. Mereka berkata kepadanya “Pembangunan bait Allah ini memakan waktu Empat puluh Enam Tahun, dan Engkau sanggup mendirikannya dalam tiga hari?

Sebenarnya yang dimaksud Yesus dengan “Bait Allah” Ialah tubuhnya sendiri (Yoh 2:21).

Perkataan Tuhan itu punya latar belakang peristiwa Tuhan Yesus melihat para pedagang berjualan dihalaman bait Allah. Pada waktu hari raya paskah orang yahudi sudah dekat, Yesus pergi ke Yerusalem. Disana Tuhan Yesus melihat para pedagang berjualan di halaman bait Allah. Mereka menjual sapi, domba, serta merpati untuk kurban, juga para penukar uang duduk menghadapi meja mereka.

Tuhan Yesus marah melihat keadaan itu, bait Allah yang seharusnya menjadi tempat ibadah kepada Allah, sudah berubah menjadi tempat orang berjualan. Yesus membuat cambuk dan tali dan mengusir mereka keluar, sapi dan domba dihalaunya ke luar. Uang para penukar dihamburkan keatas lantai dengan membalikkan meja mereka. Kemudian ia pergi kepada orang penjual merpati serta berkata meteka, bawa keluar semua ini! Janganlah Rumah Bapaku dijadikan Pasar.

Sesudah Yesus membersihkan bait Allah itu, orang-orang Yahudi menentang Yesus dan mendesak-Nya untuk memberikan suatu tanda untuk membuktikan kewenanganNya dalam berbuat demikian, kata mereka: Tanda apakah dapat engkau tunjukkan pada kami bahwa engkau berhak bertindak demikian ?

Jawab Yesus kepada mereka “Rombak bait Allah ini dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali”.

Tuhan Yesus telah bersungguh-sungguh memulihkan kehormatan bait Allah, dengan membersihkan bait Allah dari para Para pedagang dan penukar uang, Ia ingin kita menyadari bahwa kesucian bait Allah harus tetap dijaga.

Lebih dari itu, Ia ingin menyampaikan bahwa bait Allah adalah tempat dimana Allah menyatakan kasih dan karyaNya bagi umat, oleh karena itu Yesus menyejajarkan diriNya dengan bait Allah.

Dalam diri Yesus akan dinyatakan kasih dan karya Allah yang mengasihi, mengampuni dosa dan menyelamatkan umat.

Orang-orang percaya adalah juga Bait Allah yang harus mampu menjadi alat penyataan kasih dan keselamatan dari Allah. Amin.  Tuhan memberkati.

Yesus, Bait Allah dan Kita

Bacaan :  Keluaran 20:1-17  |  Mazmur 19  |  1 Korintus 1:18-25  |  Yohanes 2:13-22  Rombak bait Allah ini, dalam tiga hari aku …

Markus 1: 14-20  |  Yunus 3: 1-5, 10  |  1 Korintus 7: 29-31  |  Mazmur 62: 6-13

 Apa yang membuat anak-anak tetap bersemangat pergi sekolah? Ada yang melihat sekolah sebagai kewajiban, suka tidak-suka, berangkat. Ada juga anak-anak yang semangat sekolah karena mendapat uang saku, atau karena akan bertemu teman-temannya. Tetapi ada pula anak-anak yang penasaran dan suka dengan pelajaran, dan meyakini akan prestasi yang bisa diraihnya. Kewajiban, uang saku, dan akan bertemu teman-teman merupakan contoh alasan yang bisa mendorong anak-anak bersekolah. Pelajaran, pengetahuan, dan prestasi merupakan contoh tujuan yang bisa menarik anak-anak untuk bersekolah. Alasan dan tujuan lain bisa banyak lagi macamnya. Tetapi bila hanya bergerak dengan salah satu hal saja, kemauan sekolah jadi kurang kuat. Maka baik alasan maupun tujuan keduanya perlu ada bersama-sama menjadi kemauan kuat bagi anak-anak untuk bersekolah.

Panggilan kehidupan beriman orang Kristen adalah bersaksi tentang penyelamatan Allah dan memelihara keselamatan dari Allah (PPAGKJ hal. 31). Agar panggilan ini ditanggapi dengan tepat oleh orang Kristen, kita bangun alasan dan tujuan dalam merespon panggilan tersebut. Ketika Yunus mangkir dari panggilan Tuhan, Tuhan tetap “mengejar”nya dan menunjukkan kuasaNya. Yunus tadinya enggan mewartakan pertobatan ke Niniwe, selain karena dianggap kota orang berdosa yang mungkin akan keras kepala terhadap warta pertobatan, Yunus kemungkinan juga ingin supaya kota milik Asyur tersebut dihukum saja sekalian, tidak usah bertobat. Tetapi Yunus akhirnya harus mengakui kuasa Tuhan yang sudah ditunjukkanNya. Panggilan dan karya Tuhan yang jauh berkuasa menjadi alasan Yunus untuk memenuhi tugas panggilannya.

Panggilan keterlibatan yang diterima oleh murid-murid Tuhan Yesus yang pertama disampaikan Tuhan dengan janji bahwa mereka akan menjadi penjala manusia. Para murid kemudian meninggalkan kemapanan hidupnya sebagai nelayan dan mengikut Tuhan. Melihat situasi kala itu, kuat kemungkinan para murid awalnya belum memahami maksud panggilan Sang Guru, tetapi mereka yakin dan percaya akan janjiNya sehingga mereka mengikutNya. Mereka meyakini bahwa mengikuti Tuhan Yesus merupakan pilihan tepat dengan harapan tentang sesuatu yang indah. Akan ada sesuatu yang mereka terima kelak. Hal ini menjadi tujuan mereka untuk percaya dan mengikutNya.

Alasan dan tujuan merespon keterlibatan kita dalam karya agung Allah bisa kita ungkapkan dalam hal lain selain dari pengalaman Yunus dan para murid yang pertama. Hal apa saja alasan dan tujuan iman kita? Bisa kita sebutkan lagi. Lalu bagaimana sikap dan hati kita menjalani hal tersebut? Selamat bergerak dalam alasan dan tujuan iman dengan tetap setia kepada Tuhan Allah.

Terlibat Dalam Karya Agung Allah

Markus 1: 14-20  |  Yunus 3: 1-5, 10  |  1 Korintus 7: 29-31  |  Mazmur 62: 6-13  Apa yang membuat anak-anak tetap …

1 Samuel 3: 1-20 | Mazmur 139:1-6, 13-18 | 1 Korintus 6:12-20 | Yohanes 1:43-51

  

Mendengar kata “Bekerja Bagi Allah” banyak orang memaknai sebagai kegiatan yang berkenaan dengan aktifitas bergereja.

Jaman dahulu memang demikian, misalnya para biarawan dan biarawati mereka adalah orang-orang yang bekerja bagi Allah.

Orang-orang yang bekerja bagi Allah (pelayanan di gereja) dipandang sebagai kegiatan rohani yang lebih baik daripada pekerjaan lain, misalnya petani, tukang, atau pegawai. Karena itu mereka dipandang sebagai orang-orang saleh yang memiliki derajat yang lebih baik daripada petani, tukang, pegawai dan sebagainya.

 

Dulu, kehidupan Kristen yang dianggap sempurna adalah untuk mereka yang bekerja di bidang rohani, dan tidak ternoda oleh pekerjaan jasmani.

Itu dulu, sebelum para reformator membawa obor pencerahan. Setelah Luther dan Calvin angkat suara maka beda cerita. Luther menegaskan, Allah memanggil seseorang untuk melayaniNya dengan cara-cara tertentu di dunia. Panggilan (beruf, Jerman) tidak selalu harus menjadi ‘rohaniwan atau rohaniwati’. Calvin menandaskan, kemampuan dan keterampilan (talenta) adalah pemberian Allah kepada semua orang, supaya mereka dapat berfungsi lebih efektif di dunia. Singkatnya, para reformator menyatakan tidak ada perbedaan derajat kerja antara yang rohani atau jasmani, gerejawi atau duniawi.

 

Pekerjaan di rumah, dapur, gudang, bengkel, ladang dan sebagainya, dapat menjadi pujian bagiNya ketika bertitik tolak, terarah dan tertuju bagi kemuliaan Allah.

Ketika pekerjaan itu dilakukan dengan tujuan bagi kemuliaan Allah maka itu berarti “Bekerja Bagi Allah”. Dengan menghayati itu maka segala pekerjaan yang kita lakukan, adalah “Bekerja Bagi Allah”.

 

Selamat Bekerja Bagi Allah…

Bekerja Bagi Allah

1 Samuel 3: 1-20 | Mazmur 139:1-6, 13-18 | 1 Korintus 6:12-20 | Yohanes 1:43-51    Mendengar kata “Bekerja Bagi Allah” banyak …

Yesus Dibaptis Agar Kita DibaptisNya

Bacaan :  Markus 1 :  4 – 11 Injil Markus mengawali kesaksiannya dengan pemberitaan tentang kedatangan Yohanes Pembaptis dan baptisan Tuhan Yesus. …