sukacita yang sempurna wkm

Sukacita Yang Sempurna

Yohanes 20 : 19-31   Berita Paskah Adalah berita sukacita. Yesus Kristus telah bangkit dan menang! Berita paskah merupakan kesaksian yang otentik dari pribadi–pribadi yang mengalami perjumpaan langsung dengan Tuhan Yesus dan karya-Nya. Berita paskah telah mengubah hidup orang–orang percaya menjadi lebih baik. Kehidupan jemaat mula–mula menunjukkan hal ini. Sukacita …

Who is Jesus Christ - page1

Kamu Akan Melihat Dia

Markus 16 : 1-8, Kisah Para Rasul 10 : 34-43     Setelah kita mengenang, mengingat dan merenungkan akan kematian Yesus. Kita …

Jesus-cross

Memandang Yesus, Melihat Kasih

Yohanes 3 : 14-21, Nas: ayat 16 Dari tema di atas, nilai kristiani apa yang dapat kita lakukan/terapkan dalam kehidupan kita sebagai …

Jesus_of_Nazareth___Detail_by_noeling

Melihat Wajah Yesus

Bacaan : Markus 9 : 2-9 Pada minggu Pra-Paskah ke-dua ini, kita membaca injil tentang Yesus dimuliakan di atas gunung, dimana kisah …

Bacaan : Kejadian 9 : 8-17

Kita sering mendengar orang mengucapkan janji. Pada waktu pemberkatan nikah kedua penganten saling mengucapkan janji setia sampai mati. Demikian juga pejabat yang dilantik mengucapkan sumpah janji untuk melakukan tugasnya dengan baik sesuai dengan peraturan dan ketetapan yang ada. Namun bagaimana realitanya? Masing-masing kita yang memberi jawab. Yang pasti ada banyak pasangan suami istri yang bercerai. Demikian juga ada sejumlah pejabat yang korupsi, serta melakukan perbuatan-perbuatan tidak terpuji lainnya yang mengingkari sumpah jabatan yang telah diucapkan dahulu. Benar seperti ada lagu: “Engkau yang berjanji, engkau yang mengingkari”. Namun tidak demikian dengan janji Tuhan. Janji Tuhan ya dan amin. Janji Tuhan dapat dipercaya. Oleh karena itu apa pun persoalan hidup yang sedang kita alami, jangan takut, jangan lantas bersungut-sungut, percayalah akan janji Tuhan, ia pasti menolong. Jikalau Allah mengatakan “Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” itu pasti demikian. Namun kita juga harus menyikapi janji Tuhan tersebut. Benar bahwa Tuhan mau menyertai kita sampai akhir jaman, namun bagaimana dengan kita? Maukah kita disertai Tuhan?

Nuh dan keluarganya baru saja melewati suatu peristiwa yang paling mengerikan sepanjang sejarah umat manusia. Semua mahluk di bumi, kecuali mereka yang ada dalam bahtera telah musnah dalam peristiwa banjir besar. Mereka keluar dari bahtera sebagai mahluk hidup yang masih bertahan di planet bumi ini, untuk melanjutkan kehidupan baru sesuai rencana Allah. Firman Tuhan menuliskan bahwa Tuhan mempunyai sifat kemanusiaan dengan membuat perjanjian dengan manusia itu, “maka Aku akan mengingat perjanjian-Ku …” (ayat 15). Allah mengingat janjiNya.

Allah telah berjanji bahwa Dia tidak akan lagi menghukum bumi ini dengan ‘air bah’. Allah telah memenuhi janji-Nya itu selama lebih dari 4.000 tahun. Sebagai orang percaya kita yakin dan memegang janji Allah itu. Namun demikian kita harus merespon janji Allah itu dengan suatu sikap yang bijak, yaitu dengan menjaga dan memelihara bumi ini sebagai mandataris Allah. Jika Allah sendiri berkenan menjadikan pelangi sebagai alat untuk mengingatkan diri-Nya akan janji-Nya sendiri, maka pelangi itu juga harus menjadi peringatan bagi kita, manusia. Agar kita turut “memegang” janji Allah itu, dengan menjaga dan memelihara “stabilitas kosmis” sebagaimana dikehendaki-Nya. Pemazmur berkata: “Beritahukanlah jalan-jalan-Mu kepadaku, ya TUHAN, tunjukkanlah itu kepadaku. Bawalah aku berjalan dalam kebenaran-Mu dan ajarlah aku, sebab Engkaulah Allah yang menyelamatkan aku, Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari” (Mzm. 25 : 4–5).

Dalam 2 Petrus 3: 6-7 dikatakan, “dan bahwa oleh air itu, bumi yang dahulu telah binasa, dimusnahkan oleh air bah. Tetapi oleh firman itu juga langit dan bumi yang sekarang terpelihara dari api dan disimpan untuk hari penghakiman dan kebinasaan orang-orang fasik.” Nas ini mengingatkan kita bahwa air bah tidak akan datang, namun api neraka pasti menjadi hukuman bagi orang-orang berdosa.

<

p style=”text-align: justify;”>Rancangan Tuhan dan janji-janjiNya pasti akan digenapi dalam hidup ini, asal kita sabar menanti-nantikan Tuhan dan menjaga hidup tetap berkenan seturut kehendakNya! Amin..

Tempaan & Janji Tuhan

Bacaan : Kejadian 9 : 8-17 Kita sering mendengar orang mengucapkan janji. Pada waktu pemberkatan nikah kedua penganten saling mengucapkan janji setia …

2 Korintus 4 : 3-6

Ketika kita sudah berumah tangga (nikah) kita tidak sendiri lagi, yang dulu satu kini menjadi dua, segala sesuatunya pasti akan berubah, pikiran, pergaulan, kasih sayang, bahkan kasih sayang terhadap orang tua pun sudah beralih kepada suami atau istri. Ini adalah sebuah peristiwa alam yang tidak bisa kita pungkiri dan dapat dikatakan itu wajar.

 Mengacu pada peristiwa tersebut di atas kita sebagai umat Kristus yang telah diajarkan tentang kasih, tentang kemuliaan, tentunya kita tidak akan menyia-nyiakan ajaran tersebut. Dalam 2 korintus 4:6 menyatakan sebab Allah telah berfirman “dari dalam gelap akan terbit terang”. Ia juga yang membuat terangnya bercahaya di dalam hati kita supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus.

Dari dalam gelap akan terbit terang, jelas kita diingatkan betapa mulianya Kristus terhadap kita, bagaikan matahari yang terbit dipagi hari memancarkan sinarnya dengan terang dan memberikan secercah harapan untuk kita semua.

 Adalah suatu kebahagiaan bagi kita, bila kita bisa merasakan berkat dari Tuhan yang dulu gelap kini menjadi terang, yang dulu susah kini jadi senang, indahnya hidup yang senantiasa diberkati oleh Tuhan.

 Dalam benak kita kadang kita bertanya pada diri sendiri, mampukah menyatakan kemuliaan Kristus yang telah memberikan kenikmatan, memberikan terang bagi kita semua?

Jawabnya ada pada diri kita masing-masing, tapi yang jelas Menyatakan Kemuliaan Kristus itu menjadi tugas dan panggilan kita semua.  Tuhan memberkati. Amin.

Menyatakan Kemuliaan Kristus

2 Korintus 4 : 3-6 Ketika kita sudah berumah tangga (nikah) kita tidak sendiri lagi, yang dulu satu kini menjadi dua, segala …

Markus 1 : 29-39

Tema tersebut mengingatkan kepada kita bahwa dalam hidup, agar kita senantiasa mengucap syukur dalam segala hal. “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki oleh Allah didalam Kristus Yesus bagi kamu” (Tesalonika 5:18).

Hidup bersyukur itu adalah merupakan kunci kepuasan dan kebahagiaan seseorang.

Mengapa harus bersyukur?

Bersyukur itu adalah menunjukkan bahwa kita percaya dan mengakui bahwa Tuhan adalah sumber segala berkat.

Atas kasih Allah yang diterima dalam hidup ini, kita dituntut dapat menjadi “terang dunia” (Matius 5:14). Jadi kehidupan orang Kristen tidak menjadi berkat jika cahayanya tidak memancar keluar.

Dalam bacaan tadi pada ayat 31, ada dua hal yang penting ialah “demamnya perempuan tadi lenyap, dan kemudian melayani mereka”. Perempuan tadi pasti bersukacita, bahagia dan bersyukur atas kebaikan kasih Allah. Dan perempuan tadi tidak melupakan, bahkan berkomitmen melayani Tuhan Yesus.

Melayani Tuhan berarti memberikan yang terbaik bagi Tuhan; hidup, waktu, tenaga dan pikiran dipersembahkan bagi Dia. Jika kita sudah terlibat dalam pelayanan, kita harus benar-benar memiliki kepedulian terhadap orang lain, terlebih terhadap saudara seiman. Disamping harus bersukacita (bukan karena terpaksa), tetapi juga harus memiliki kerendahan hati, kelemah lembutan, dan kesabaran.

Sebagai pelayan Tuhan kita dituntut pula untuk menjadi garam dunia (Matius 5:13), untuk menjadi garam dunia, kita dituntut harus memiliki kemurnian hidup.

Bagaimana kita bisa memurnikan orang lain atau dapat menjadi berkat bagi orang lain, jika kita sendiri tidak hidup dalam kemurnian. Hidup dalam kemurnian berarti menjadi teladan “…. dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu, dan dalam kesucianmu” (I Timotius 4:12b).

Mengucap syukur dalam segala hal, bisa menjadi berkat bagi orang lain, agar supaya nama Tuhan semakin dipermuliakan melalui hidup kita.

Amin.

Bersyukur Atas Kasih Allah, Menjadi Sesama Bagi Sesama Ciptaan Allah

Markus 1 : 29-39 Tema tersebut mengingatkan kepada kita bahwa dalam hidup, agar kita senantiasa mengucap syukur dalam segala hal. “Mengucap syukurlah …

Bacaan : Markus 1 : 21-28

Meskipun tulisan Markus hanya menceritakan sedikit ajaran Yesus, namun banyak tekanan diberikan tentang pelayanan dan pengajaranNya. Didalam bacaan ini diceritakan tentang penyembuhan seorang yang kerasukan roh jahat ketika Tuhan Yesus sedang mengajar di rumah ibadat.

Rumah ibadat (Yunani Synagoge) berarti pertemuan bersama atau suatu sidang, tetapi sering dikenal pada gedung tempat jemaat bertemu. Kebaktian dilakukan tiap hari sabat yang bersifat memberi pengajaran, tetapi juga ada majelis pengadilan yang dapat menjatuhkan hukuman. Di dalam kegiatan pengajaran/kebaktian, juga ditentukan petugas-petugas untuk membaca dan menerangkan Alkitab. Di Kapernaum Tuhan Yesus banyak mendapat kesempatan mengajar, karena cara mengajar yang berwibawa dan ajaran yang diberikan sangat berbeda dengan para guru Yahudi, sehingga banyak yang mengundangNya untuk mengajar dimana Yesus berada.

Suatu saat ketika Tuhan Yesus sedang mengajar di rumah ibadat, terdengarlah jeritan seorang yang kerasukan roh jahat. Roh jahat itu sangat mengetahui akan pelayanan mesianis Yesus dan menyadari bahwa mereka sekarang berhadapan dengan penakluk mereka. Kemudian Tuhan Yesus menghardik roh jahat itu agar keluar dari orang itu, dan keluarlah roh jahat dari dalam orang itu setelah menggoncang-goncangkan tubuhnya tanpa menyakitinya. Tanpa menjamah, cukup dengan firmanNya orang yang kerasukan roh jahat menjadi sembuh (sebagai wujud kasih Allah). Mereka yang melihat kejadian itu sangat takjub dan memperbincangkan diantara mereka, maka tersebarlah kemahsyuran Yesus di seluruh penjuru di Galilea.

Dari uraian di atas, pelajaran apakah yang dapat kita ambil yang berhubungan dengan tema minggu ini: “memberitakan dan menyatakan kasih Allah?”

Marilah kita pusatkan konsentrasi kita pada pelayanan Tuhan Yesus di Kapernaum, antara lain:

  1. Memberikan pengajaran/mengajar = memberitakan

  2. Menyembuhkan (wujud kasih Allah)

Nah itulah yang menjadi tugas tanggung jawab kita sebagai anak Tuhan untuk melakukannya kepada sesama (orang lain). Mampukah kita?  O, tentu mampu asalkan mau belajar terus untuk memahami Firman Tuhan dan mohon pertolonganNya dalam doa.

Marilah kita mulai belajar untuk melakukan tugas / tanggung jawab tersebut dengan memperhatikan sesama kita / saudara-saudara kita yang menderita di beberapa daerah bencana dan membutuhkan bantuan doa dan dana / sarana lain.

Didalam warta gereja telah diinformasikan untuk bencana tanah longsor di Banjarnegara membutuhkan bantuan dana melalui gereja/klasis/sinode. Kita tidak perlu bertatap muka kesana, cukup kita berikan sebagian harta milik kita kepada mereka. Kiranya Roh Kudus memampukan kita untuk melakukan kehendakNya: “Memberitakan dan Menyatakan Kasih Allah”. Amin.

Memberitakan & Menyatakan Kasih Allah

Bacaan : Markus 1 : 21-28 Meskipun tulisan Markus hanya menceritakan sedikit ajaran Yesus, namun banyak tekanan diberikan tentang pelayanan dan pengajaranNya. …