MENJADI BERKAT BAGI SESAMA
2 Korintus 1:3-11 | Markus 6:34-44
Hidup ini tidak selalu berjalan mulus. Ada masa-masa sulit yang datang tanpa diduga, tantangan dalam pekerjaan, pergumulan dalam keluarga, pergumulan kondisi kesehatan, bahkan ujian dalam iman kita kepada Tuhan. Saat menghadapi keadaan berat, sering kali kita tergoda untuk menyerah, merasa ditinggalkan, atau berpikir bahwa Tuhan tidak peduli. Namun Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus menunjukkan sikap yang luar biasa. Meskipun mengalami banyak penderitaan, ia tetap teguh dan bahkan menjadi berkat bagi orang lain. Apa rahasia Paulus? Bagaimana kita bisa tetap menjadi berkat meskipun berada dalam keadaan yang berat?
Hidup di dunia ini disertai berbagai tekanan antara lain masalah ekonomi, tanggung jawab pekerjaan, dan berbagai tuntutan lainnya. Namun firman Tuhan mengatakan bahwa sekalipun kita mendapat tekanan, kita tidak akan terjepit. Ini berarti Tuhan selalu menyediakan jalan keluar bagi kita. Sama halnya dengan hidup kita. Kita semua adalah manusia yang diciptakan oleh Tuhan dengan harkat dan martabat yang sama. Akan tetapi bagaimana kita mengisi hidup kita, itulah yang membuatnya menjadi lebih berharga. Oleh karena itu, “apa yang perlu kita lakukan agar hidup ini dapat menjadi lebih berharga di mata Allah?”
Kita membaca Injil Markus 6:34-44 tentang kisah mujizat Yesus yang memberi makan lebih dari 5000 orang atau yang dikenal juga dengan mujizat lima roti dan dua ikan (ayat 38). Saat itu para murid memberikan lima roti dan dua ikan yang mereka punya kepada Yesus. Lalu seperti tertulis, “Setelah mengambil lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap berkat. Lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada para murid, supaya dibagi-bagikan kepada orang banyak itu. Dan mereka semua makan sampai kenyang.” Para ahli Kitab Suci berpendapat bahwa di antara sekian banyak orang yang mengikuti Yesus, pasti ada banyak di antara mereka yang juga membawa bekal (roti). Ada dari antara mereka yang masih memiliki, dan ada yang tidak. Tetapi, di sini kita dapat melihat bagaimana roti yang dimiliki oleh para rasul yang hanya sedikit itu (lima potong) mampu memberi makan 5000 orang lebih hingga kenyang. Sama-sama roti yang terbuat dari gandum, namun yang membuatnya menjadi berbeda ialah karena kelima roti itu dipersembahkan kepada Yesus untuk diberkati oleh-Nya.
Demikian pula dengan hidup kita. Jangan sampai kita menyerahkan dan mengisi hidup kita dengan sesuatu yang tidak berguna atau sesuatu yang bukan berasal dari Allah. Sungguh, hidup kita akan menjadi berharga dan bahkan mampu menjadi berkat bagi sesama apabila kita mau menyerahkan hidup kita sepenuhnya kepada Tuhan supaya Ia dapat mengisi hidup kita dengan berkat dan kasih- Nya. Syukur kepada Allah, Tuhan Yesus telah menunjukkan teladan-Nya terlebih dahulu kepada kita. Ketika Tuhan Yesus terentang di atas kayu salib, Ia menyerahkan nyawa-Nya ke dalam tangan Bapa-Nya. Kematian yang sama sebagai seorang manusia, namun karena Allah sungguh berkenan, maka kematian-Nya telah memberi hidup kekal kepada semua orang yang percaya kepada-Nya.