PERJALANAN KESELAMATAN ADALAH RUMAH
Kisah Para Rasul 7 : 55-60
“Perjalanan Keselamatan adalah Rumah” berdasarkan Kisah Para Rasul 7:55-60 merupakan sebuah pandangan bahwa tujuan akhir dari hidup orang percaya bukanlah dunia ini, melainkan persekutuan kekal dengan Allah di surga (Rumah Bapa). Renungan ini mengajak kita melihat bahwa setiap jerih payah dan iman dalam mengikut Kristus bertujuan untuk mencapai “Rumah” kekal, di mana keselamatan kita disempurnakan.
Kematian Stefanus yang digambarkan dalam bacaan Alkitab kali ini menegaskan beberapa poin penting:
1. Surga Adalah Rumah Sejati
Saat dilempari batu, Stefanus melihat langit terbuka dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah. Ini menunjukkan bahwa bagi Stefanus, kematian bukanlah akhir yang menakutkan melainkan momen “pulang” ke rumah yang sesungguhnya. Meskipun menghadapi kekerasan, Stefanus menunjukkan kualitas hidup orang yang sudah “merasa di rumah” bersama Tuhan. Ia berfokus pada kemuliaan Tuhan. Ia tidak fokus pada batu yang dilemparkan, melainkan pada langit yang terbuka.
2. Melatih Hati yang Mengampuni
Hidup adalah perjalanan (ziarah). Perjalanan keselamatan bukanlah jalan yang rata, tetapi proses beriman yang membawa kita pulang, seperti Stefanus yang tetap setia dan mengampuni meski menghadapi kekerasan dalam proses kematiannya. Beban yang paling berat dalam perjalanan adalah kepahitan. Stefanus tetap kuat karena ia melepaskan pengampunan bahkan saat disakiti sekalipun.
3 . Kepastian Keselamatan
Kisah ini memberikan jaminan bahwa perjalanan iman kita tidak berakhir sia-sia. Kematian bagi orang percaya bukan lagi “perpisahan yang kelam,” melainkan pintu masuk menuju Rumah Bapa yang penuh damai sejahtera. Mari aktif bergabung dalam komunitas orang beriman melalui persekutuan-persekutuan di gereja. Saat kita lemah, saudara seiman dapat menguatkan dan sebaliknya, agar perjalanan pulang kita terasa lebih ringan jika dilakukan bersama-sama.
Dari perenungan di atas:
- Bagaimana sikap kita saat menghadapi kesulitan/ kegagalan atau kepahitan dari orang lain?
- Seberapa banyak waktu & pikiran kita tersita untuk membangun “rumah di dunia” (harta, status, kenyamanan) dibandingkan membangun hubungan dengan Tuhan yang adalah “rumah kekal” kita?
Yesus yang menyediakan rumah yang kekal bagi kita, memberkati hidup kita senantiasa.