KASIH BAGI SESAMA
Ulangan 30:9-14 | Mazmur 25:1-10 | Kolose 1:15-28 | Lukas 10:25-37
Sebagai umat Kristen, kita sering sekali mendengar kalimat “kasih bagi sesama,” tetapi sering juga kita gagal untuk dapat menerapkan kasih kepada sesama dalam kehidupan kita sehari hari. Penyebabnya kita seringkali mengedepankan ego kita dan terjebak dengan prinsip prinsip dunia yang “lazim” tetapi sebenarnya tidak sesuai dengan prinsip yang Alkitabiah yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Hal tersebut misalnya: kita akan berlaku baik jika seseorang itu baik dengan kita, jangan mau kita dimanfaatkan terus oleh seseorang, jika seseorang tidak peduli dengan kita maka kita pun juga tidak perlu peduli dengan dia, dan masih banyak lagi prinsip prinsip dunia yang sepertinya itu baik dan lazim, tetapi apakah hal itu sesuai dengan Alkitab?
Dalam bacaan kita hari ini, ada beberapa teladan yang bisa kita renungkan dan terapkan dalam kehidupan sehari hari. Kisah orang Samaria yang murah hati (Lukas 10:25-37) Tuhan Yesus menceritakan bahwa ada seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho. Dalam perjalanan orang tesebut dirampok oleh penyamun dan dianiaya sampai hampir mati. Sesudah ditinggal pergi para perampok, lewatlah seorang Imam melalui jalan itu, tetapi seorang imam tersebut hanya lewat saja dan tidak menolongnya kemungkinan karena Imam tersebut merasa tidak boleh menyentuh hal yang dianggap kotor seperti luka, darah, atau mengira korban adalah jenazah sudah meninggal. Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu, dan ia membiarkan saja kemungkinan karena merasa itu bukan urusannya. Kemudian datanglah seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan melewati tempat itu. Ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan lalu ia menghampiri orang itu, membersihkan dan membalut luka-lukanya kemudian menaikkan ke atas keledainya lalu membawanya ke penginapan dan merawatnya. Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan untuk merawat orang tersebut sampai sembuh. Dan jika uangnya kurang, ia akan mengganti uang tersebut waktu ia kembali.
Dari cerita dalam perikop tersebut, telah nyata kasih yang sejati, tulus Ikhlas, dan tanpa pamrih. Kasih itulah yang diharapkan oleh Tuhan kita Yesus Kristus. Tuhan telah memberikan janji-Nya dan tidak tinggal diam kepada kita yang melakukan perintah Tuhan untuk mengasihi sesama kita. Tuhan memberikan janji-Nya kepada kita sebagaimana dalam Ulangan 30: 9-14. Dengan mematuhi-Nya, Tuhan akan melimpahi dengan kebaikan dalam segala pekerjaan kita, dalam buah kandungan, dalam hasil ternak dan dalam hasil bumi, dan Tuhan akan memberikan keberuntungan kepada kita. Sebagaimana kata Pemazmur bahwa Tuhan itu baik dan benar, Tuhan akan selalu membimbing dan mengajarkan jalan-Nya kepada orang yang rendah hati. Amin.