Sukacita Perdamaian

Bacaan :   2 Korintus 5: 16-21 | Lukas 15: 1-3, 11-32

 Gambaran yang kita jumpai dalam perumpamaan anak yang hilang menyampaikan tentang pendamaian yang memunculkan belas kasihan dan sukacita. Kisah ini dimulai dari anak bungsu meminta harta bagiannya kepada sang Bapa untuk hidup merantau, jauh dari sang Bapa. Sangat disayangkan si bungsu menggunakan hartanya untuk berfoya-foya. Akhirnya, ia jatuh miskin. Dalam kesengsaraannya, ia menyadari kesalahannya dan berencana kembali ke Bapa untuk bekerja menjadi orang upahan.

Tak disangka sang Bapa pun bukan orang yang bersantai atau hidup bahagia ketika si bungsu pergi, Ia nampak menunggu anaknya kembali. Bahkan dari pandangan yang jauh hati-Nya sudah tergerak oleh belas kasihan. Sang Bapa pun lari, merangkul, dan mencium anaknya. Si bungsu mengaku dosa yang ia lakukan dan Bapa memberi pengampunan, bahkan merayakan kembalinya si bungsu. Allah Bapa dalam perumpamaan tersebut merupakan inisiator dari pendamaian dan perdamaian. Hal ini diwujudkanNya dengan menggenapi karya penebusanNya melalui Tuhan Yesus Kristus.

Allah ingin bukan hanya kita – orang yang saat ini mendengar kebenaran Allah – yang merasakan pendamaian. Ia ingin kita menjadi pendamai bagi sesama kita. Sebagaimana yang diperlihatkan rasul Paulus. Ia dulunya membenci Yesus dan pengikut-Nya lalu menerima pendamaian dari Allah. Kini Paulus pun memberi diri agar orang-orang, salah satunya penduduk kota Korintus, juga merasakan sukacita damai dari Allah.

Allah tidak pernah menutup undangan untuk merayakan kemenangan. Allah ingin semua orang merasakan sukacita perdamaian. Justru mungkin kitalah yang egois, menginginkan sukacita pendamaian kita rasakan sendiri, sama seperti si anak sulung. Kini, ketika kita memahami Allah selalu berinisiatif melakukan pendamaian bagi umat-Nya dan kita sudah menerima damai tersebut, apakah kita mau menjadi pendamai? Apakah kita mau membagikan sukacita pendamaian dari Allah kepada orang lain? Rangkullah setiap orang yang sedang dalam permasalahan. Jadilah pendengar bagi mereka yang berduka. Duduklah bersama-sama mereka yang sedang dalam pergumulan. Mereka membutuhkan kekuatan hingga berdiri tegak, menjadi pemenang dalam Kristus. Amin.

%d bloggers like this: