Siapakah Sesamaku ?

Renungan Minggu, 25 November 2012

Bacaan Alkitab : Lukas 10 : 25-37

Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: “Dan siapakah sesamaku manusia?” (Lukas 10:29)

 

Paul Sartre, seorang filsuf Perancis pernah mengatakan ’’orang lain adalah neraka’’. Dia menganggap kehadiran orang lain dalam kehidupan ini adalah ancaman bagi kita sendiri. Kehadiran orang lain dapat menimbulkan kefrustasian, maka buat apa kita membutuhkan orang lain? Sartre dalam sebuah dramanya memang merasa tidak membutuhkan orang lain. Lantas apakah benar kita tidak membutuhkan orang lain atau sesama kita?

Bacaan kita pada saat ini, bertolak belakang dengan pendapat Sartre, karena bacaan kita ini memaparkan betapa pentingnya kehadiran dan keberadaan sesama kita. Terlihat jelas dari perumpamaan Tuhan Yesus, ada seorang yang dirampok di lembah Yerikho. Disitu ia tidak hanya dirampok habis-habisan, tetapi juga dipukuli. Kemudian ditinggalkan begitu saja di pinggir jalan. Dari arah Yerusalem datanglah seorang imam, lalu disusul oleh seorang lewi, pembantu imam. Namun sayang, kedua orang ini tidak mau membantu dengan berbagai kemungkinan alasan. Sedangkan orang ketiga yang berjalan di daerah itu adalah orang Samaria. Orang Samaria adalah orang Yahudi yang telah kawin campur dengan bangsa lain. Yang menurut orang Yahudi, orang Samaria dianggap dosanya besar. Tetapi justru mau menolong, bahkan merawat orang yang dirampok tadi.

Yang menarik kita pertanyakan adalah, dengan alasan apa orang Samaria tersebut menolong orang tadi? berkenaan dengan perumpamaan ini Tuhan Yesus secara langsung berbicara tentang pelaku dari ’Kasih kepada sesama’. Bukan mempermasalahkan ’siapa yang aku kasihi’ melainkan ’aku harus mengasihi’. Apabila ini terjadi, maka bila ada pertanyaan ’siapakah sesamaku?’ dengan sendirinya dipecahkan apabila kita betul-betul mau mencoba menjadi sesama terhadap orang lain dan bertindak sebagai sesama terhadap orang lain. Kasih kepada sesama itu tidak hanya terdiri dari perasaan dan perkataan yang muluk-muluk, tetapi harus menjadi nyata dalam perbuatan praktis. Kata sesama manusia bermakna sama-sama manusia, maka tidak boleh dibuat perbedaan antara golongan sendiri dan orang lain. Marilah dari sekarang, berusaha untuk memahami keberadaan sesama kita. Amin.

%d bloggers like this: