MEMBANGUN BANGSA DENGAN SEMANGAT INKLUSIF
Matius 15:21–28
Percakapan Tuhan Yesus dengan perempuan Kanaan dalam bacaan Matius 15:21–28 mengajarkan dua hal dasar. Pertama, bahwa Allah mengasihi semua orang tanpa dibatasi oleh suku, ras, agama, golongan, atau tradisi tertentu. Kedua, bahwa iman sejati yang rendah hati sekaligus tanpa menyerah “meruntuhkan tembok pemisah.” Bangsa non Yahudi pun diperkenan Allah karena iman, bukan keturunan.
Dalam suasana Bulan Kebangsaan 2026 dan merayakan HUT ke-81 Kemerdekaan RI kita memperteguh kembali semboyan nasional “Bhineka Tunggal Ika” yang artinya berbeda-beda tetapi tetap satu. Semboyan ini menegaskan bahwa negara Indonesia didirikan dengan semangat inklusif. Inlusif adalah pandangan dan sikap hidup yang merangkul keberagaman dengan memastikan setiap individu merasa diterima, dihargai, dan diberi hak serta kesempatan setara untuk berpartisipasi penuh tanpa memandang suku, agama, ras, gender, status sosial, maupun kondisi fisik atau difabel.
Sebagai warga Indonesia kita bangga akan kemerdekaan yang memasuki usia 81 tahun. Tetapi perkembangan zaman menunjukkan saat ini terjadi lunturnya kebersamaan dengan berbagai fenomena intoleransi dan diskriminasi. Hal ini menunjukkan kecenderungan bangsa Indonesia yang semakin eksklusif, bukan inklusif. Paham eksklusif ini berkembang karena banyak faktor penyebab antara lain karena pertama, kesenjangan sosial dan ekonomi yang tajam dan dapat mendorong munculnya kecemburuan sosial. Kedua, perbedaan pandangan dan pendapat yang akhirnya membuat muncul kelompok atau komunitas yang tidak sehat, yang menganggap kelompok lain yang berbeda dan tidak sesuai dengan pendapatnya sebagai musuh.
Di tengah keprihatinan kehidupan bangsa yang diwarnai intoleransi dan diskriminasi, maka kita dipanggil untuk terlibat dalam karya pemulihan Allah dalam membangun bangsa dengan semangat inklusif. Kita mulai dari diri kita masing-masing untuk menerima sesama dengan kesetaraan, karena toleransi dan inklusi menjadi awal mula kerukunan dan kerja sama dengan banyak orang. Mari kita kobarkan kembali semangat mengisi kemerdekaan dengan menjunjung tinggi toleransi atas keragaman yang ada dan tetap berdasarkan iman kepada Tuhan Yesus, sehingga kehadiran kita ditengah-tengah masyarakat bisa bermanfaat membangun bangsa dan membawa berkat buat sesama. Tuhan Yesus memberkati.
Bahan perenungan kita semua:
1. Kendala apa yang kita rasakan dalam berpartisipasi mengisi kemerdekaan membangun bangsa dengan keragaman dan realita bangsa Indonesia saat ini? Apa solusinya menurut pandangan bapak/ ibu/ saudara?
2. Bagaimana cara kita tetap teguh menjaga identitas sebagai orang Kristen ditengah-tengah kondisi bangsa Indonesia saat ini?