MENGAMPUNI ITU HEBAT

Kejadian 50 : 15–21, Matius 18 : 21–35

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mengalami luka karena perkataan atau perbuatan orang lain. Tidak jarang dalam hati kita dipenuhi kekecewaan, bahkan keinginan untuk membalas dan bukan mengampuni. Pengampunan merupakan salah satu inti paling mendasar dalam iman Kristen. Matius 18:21–35 mengisahkan pertanyaan Petrus tentang batas mengampuni. Menurut tradisi Yahudi saat itu, mengampuni sampai tiga kali sudah dianggap cukup. Petrus bahkan melampaui itu dengan menawarkan tujuh kali. Namun Yesus menegaskan bahwa pengampunan tidak mengenal batas. 

Melalui perumpamaan tentang hamba yang tidak berbelaskasihan, Yesus ingin menunjukkan bahwa belas kasih Allah jauh lebih besar daripada dosa manusia. Pengajaran ini menjadi fondasi spiritual bagi umat Kristen: siapa yang telah mengalami pengampunan Allah, dipanggil untuk mengampuni sesamanya.     

Pokok-pokok iman:   

1. Allah adalah sumber belas kasih yang tak terbatas. Dalam perumpamaan dikatakan seorang raja mengampuni hutang hambanya yang sangat besar. Hutang itu begitu besar sehingga mustahil dilunasi. Gambaran ini menunjukkan belas kasih Allah kepada manusia. Dosa manusia kepada Allah sebenarnya tidak terhitung, namun Allah tetap mengampuni.

2. Orang yang mengalami pengampunan dipanggil untuk mengampuni. Hamba yang telah diampuni justru tidak mau mengampuni temannya yang berhutang kecil kepadanya. Sikap ini menunjukkan ketidakselarasan antara rahmat yang diterima dan tindakan yang dilakukan.

3. Mengampuni itu membebaskan hati. Pengampunan bukan berarti membenarkan kesalahan orang lain, tetapi membebaskan hati yang mengampuni dari belenggu kebencian. Orang yang menyimpan dendam sebenarnya sedang memenjarakan dirinya sendiri. Yesus mengajarkan bahwa pengampunan adalah jalan menuju kedamaian batin dan kehidupan yang penuh kasih.

Injil hari ini mengajarkan bahwa pengampunan adalah jantung atau inti kehidupan Kristiani. Allah telah lebih dahulu mengampuni kita dengan kasih yang tak terbatas. Karena itu, kita dipanggil untuk menghadirkan belas kasih yang sama kepada sesama.  Mengampuni memang tidak mudah, mengampuni juga bukan tanda kelemahan, melainkan kekuatan kasih yang berasal dari Tuhan. Karena ketika kita belajar mengampuni, kita sedang meneladan hati Kristus yang penuh kasih. Dan hanya hati yang dipenuhi rahmat Allah yang mampu mengampuni tanpa batas. Kiranya kita semua semakin dimampunkan dan belajar memiliki hati seperti hati Kristus yang menjadi pembawa pengampunan dan damai di tengah keluarga kita. Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Untuk kita perdalam dan bagikan:

1)  Apa perbedaan mengampuni dan memaafkan?

2)  Apa pengalaman kita mengampuni orang lain?

3)  Bagaimana kita terus belajar untuk mengampuni?