KASIH TUHAN UNTUK SEMUA

Yunus 4:10–11 | Matius 20:1–16

Orang-orang percaya terus belajar menghayati dan memahami kasih Tuhan karena keterbatasan manusiawi kita di hadapan Tuhan Yang Mahakuasa. Namun demikian, Tuhan menyatakan kasih-Nya yang kita hayati dan percaya bahwa kasih-Nya untuk semua orang dan semua ciptaan-Nya. Kita belajar dari bacaan-bacaan Alkitab hari ini cara Tuhan menyatakan kasih-Nya.

Pertama, kasih Tuhan terbuka dan tidak eksklusif. Tindakan Nabi Yunus yang menyimpang dari tujuan pengutusannya menunjukkan ketidaksetujuannya kepada Tuhan Allah untuk mewartakan teguran pertobatan kepada Kota Niniwe. Tindakannya menggambarkan sikap Bangsa Israel kuno yang merasa bahwa Allah hanya mengasihi mereka sebagai umat-Nya dan bukan bangsa-bangsa lain. Namun justru sebaliknya, kasih Tuhan Allah dinyatakan kepada segala bangsa, juga kepada Kota Niniwe (Yun. 4:11). Penduduk kota itu diberi kesempatan untuk bertobat melalui misi Nabi Yunus ke sana.

Kedua, kasih Tuhan itu anugerah. Perumpamaan dalam bacaan Injil Matius 20 menunjukkan tuan rumah pergi keluar untuk mencari pekerja untuk kebun anggurnya. Pada waktu itu, ketika orang tidak bekerja, maka tidak mendapat upah. Tanpa upah, orang akan sulit memenuhi kebutuhan hidup. Oleh karena itu, tindakan tuan rumah pemilik kebun anggur mencari pekerja adalah kemurahan hatinya, agar orang-orang bisa bekerja dan mendapat upah. Terlebih lagi kasih Allah kepada kita orang-orang percaya adalah anugerah. Tuhan Allah lebih dahulu mengasihi kita dan menyatakan karya-Nya bagi kita. Kita percaya kepada-Nya dengan iman dan mendapat berkat dan keselamatan oleh Tuhan Yesus Kristus.

Ketiga, kasih Tuhan dinyatakan dalam otoritas keilahian-Nya yang absolut. Perumpamaan ini tidak hendak menunjukkan ketidakadilan kepada para pekerja, karena konteksnya ialah kebaikan tuan rumah pemilik kebun anggur yang sudah mencari dan menjemput para pekerja agar mereka bisa mendapat upah. Tohpekerja yang masuk pertama, sudah bersepakat dengan tuan rumah tentang upah sehari satu dinar. Tuan rumah pun juga berotoritas untuk berkarya menurut kehendak dan kemurahan hatinya. Tuhan menyatakan kasih-Nya menurut kehendak-Nya juga kemurahan hati-Nya. Sehingga kita disadarkan bahwa kita hidup dalam otoritas Kemahakuasaan Tuhan yang mengasihi kita.

Kasih Tuhan untuk semua melibatkan kita untuk juga mengasihi sesama kita manusia dengan terbuka. Kita sudah mendapat anugerah-Nya, maka mari kita hadirkan kebaikan dalam kemurahan hati kepada sesama. Dan yang pasti, mari kita selalu bersyukur untuk kasih-Nya yang besar dan tak terbatas, sehingga berkat-Nya terus ada sepanjang hidup kita. Amin.

Untuk diskusi bersama:

1) Mengapa sikap Nabi Yunus keliru dan bagaimana sikap yang tepat?

2) Apa saja konteks dan situasi yang perlu kita ketahui agar tidak keliru memahami perumapaan orang upahan di kebun anggur?

3) Apa saja yang kita pahami tentang perumpamaan dalam Injil Matius 20?