MEMBAGIKAN ROTI KEHIDUPAN DALAM PERAHU YANG BERGOLAK
Matius 14:22-33
“In this economy” menjadi salah satu frasa yang sering muncul di percakapan medsos dan lisan orang, yang menandakan dan mencerminkan kondisi ekonomi di negara ini sedang tidak baik-baik saja. Umumnya masyarakat membayangkan gambaran kondisi ekonomi dan sehari-hari itu seperti situasi suatu tempat dengan dinamika cuacanya. Ketika kondisi ekonomi tidak baik-baik saja, orang mudah membayangkan seperti suatu tempat yang sedang dilanda badai, hujan, dan angin kencang. Bacaan perikop hari ini yang sudah sangat akrab dengan kita, menceritakan Tuhan Yesus yang berjalan di atas air. Namun terkadang kita lupa akan pesan dari perikop ini.
Dimulai dengan murid-murid Tuhan Yesus yang sudah kenyang dengan 5 roti dan 2 ikan dan melihat mukjizat yang luar biasa. Saat itu iman mereka menjadi lebih kuat. Setelah semuanya sudah selesai dengan hiruk-pikuk pengumpulan 12 bakul roti, murid-murid diminta untuk berangkat terlebih dulu dan Tuhan naik ke bukit seorang diri untuk berdoa. Pada saat malam dan perahu sudah jauh dari pantai, perahu diombang ambingkan oleh angin. Saat jam 3 malam Tuhan Yesus datang dengan berjalan di atas air. Murid-murid sangat ketakutan dan mengira sedang melihat hantu. Setelah mereka tahu bahwa itu adalah Tuhan, Petrus ingin mendatangi-Nya dan sempat berjalan di atas air sebentar. Namun karena angin yang bertiup, takutlah Petrus dan ia tenggelam. Tuhan menegur Petrus dan murid-murid lain. Setelah Tuhan naik, angin menjadi reda dan murid-murid mengaku, “sesungguhnya Engkau Anak Allah.”
Judul renungan kita hari ini ialah “Membagikan Roti Kehidupan Dalam Perahu Yang Bergolak.” Kita harus tahu dulu apa itu “roti kehidupan.” Roti kehidupan ialah Tuhan Yesus sendiri. Kita sering melihat penyertaan Tuhan dalam hidup kita, betapa hebat mukjizat yang kita alami bersama Dia. Namun semuanya seakan terasa sirna pada saat kita dihadapkan angin dan ombak kehidupan yang lebih besar. Tapi tiap minggu kita dikuatkan oleh firman dari khotbah-khotbah, kita mendapat akses mendengar renungan-renungan, dan kita menjadi kuat kembali. Namun begitu hari berganti dan kita mendengar berita-berita buruk, kita menjadi takut lagi. Ingatlah bahwa Tuhan selalu berada dalam perahu kita. Dan berkali-kali Tuhan berkata “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” Dalam hidup ini pada saat ombak dan angin datang mengguncang perahu kita, percayalah Tuhan selalu ada dalam perahu kita dan semuanya pasti akan baik-baik saja asal kita percaya. Dalam kondisi saat ini, apapun kata media sosial dan berita-berita, kita harus percaya kepada Tuhan dan penyertaan-Nya. Dalam kondisi yang sedang tidak baik-baik saja kita harus tetap memberitakan bahwa “Tuhan Yesus baik, mengasihi, dan menolong kita”. Di saat kondisi berbagai kebutuhan mahal, tetap berkata pada orang disekitar kita bahwa “aku diberkati Tuhan.” Apapun yang terjadi dengan perahu dan goncangannya, tetap mewartakan bahwa “Tuhan Yesus selalu ada buat aku dan keluargaku.” Dengan begitu kita bisa membagikan “roti kehidupan” kepada lingkungan sekitar kita. Amin. Tuhan Yesus memberkati.
Bahan perenungan kita semua:
1. Sudahkah kita mengucap syukur hari ini, meskipun sedang mengalami kondisi tidak baik-baik saja dan terpapar berbagai berita buruk dari berbagai sumber? Hal apa saja yang kita syukuri? 2. Apakah kita sudah mewartakan kebaikan Tuhan Yesus disaat kondisi kita sedang tidak baik-baik saja? Bagikan dengan jemaat lain supaya saling menguatkan.