KEDAULATAN ALLAH & HARAPAN AKAN KERAJAAN-NYA
Yesaya 44:6-8 | Mazmur 86:11-17 | Roma 8:12-25 | Matius 13:24-30, 36-43
Di tengah dunia yang penuh dengan ketidakpastian, peperangan, bencana, dan berbagai persoalan hidup, orang percaya sering bertanya, “Apakah Allah masih berdaulat?” Firman Tuhan hari ini mengajak kita untuk melihat bahwa Allah tetap memegang kendali atas sejarah dan kehidupan umat-Nya. Kedaulatan-Nya menjadi dasar pengharapan yang tidak tergoyahkan.
Dalam Yesaya 44:6-8, Allah menyatakan diri sebagai Raja Israel, Penebus, Tuhan semesta alam. Ia berkata, “Akulah yang terdahulu dan Akulah yang terkemudian; tidak ada Allah selain Aku.” Pernyataan ini menegaskan bahwa tidak ada kuasa yang dapat menandingi Allah. Segala sesuatu berada dalam pemerintahan-Nya. Karena itu umat-Nya tidak perlu hidup dalam ketakutan, melainkan percaya kepada Dia yang setia memegang masa depan.
Pada Mazmur 86 merupakan doa Daud yang memohon agar hidupnya diarahkan oleh Tuhan. Daud tidak hanya meminta pertolongan, tetapi juga memiliki hati yang takut akan nama Tuhan. Ia menyadari bahwa pengenalan akan kedaulatan Allah harus diwujudkan dalam ketaatan dan penyembahan. Ketika hati berpusat kepada Tuhan, kita dimampukan menghadapi tantangan hidup dengan iman dan pengharapan.
Sedangkan dalam Rasul Paulus dalam Roma 8:12-25 mengingatkan bahwa sebagai anak-anak Allah kita hidup dalam pengharapan. Sekalipun saat ini kita masih mengalami penderitaan, kelemahan, dan pergumulan, semuanya bukanlah akhir dari cerita. Seluruh ciptaan sedang menantikan pembebasan yang akan dinyatakan ketika Kerajaan Allah mencapai kepenuhannya. Pengharapan Kristen bukan sekadar angan-angan, melainkan keyakinan yang berakar pada janji Allah yang pasti digenapi.
Dan dalam bacaan di Matius 13 tentang perumpamaan gandum dan lalang, Yesus menegaskan kedaulatan Allah melalui penyataan Kerajaan Surga dari dunia ini sampai di hari penghakiman. Di dunia ini, anak-anak Kerajaan dan anak-anak si jahat ada bersama-sama. Kondisi ini membuat anak-anak Kerajaan yaitu anak-anak Allah harus berjuang dan bergumul di tengah dunia yang terdapat berbagai kejahatan. Sejatinya, Tuhan tidak tinggal diam dan terus memelihara hidup anak-anak-Nya serta menjamin mereka sampai di kekekalan nanti. Kedaulatan Allah dinyatakan dalam ketegasan, bahwa kehendak-Nya dinyatakan di antara manusia dan di tengah-tengah dunia ini sampai di hari penghakiman dan kekekalan nanti.
Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk hidup sebagai warga Kerajaan Allah sejak sekarang. Kita menaruh harapan kepada pemerintahan Allah yang kekal, sambil setia menaburkan kasih, keadilan, damai sejahtera, dan Injil di tengah dunia. Walaupun hasilnya belum selalu terlihat, Allah yang berdaulat sedang bekerja dan pada waktunya Kerajaan-Nya akan dinyatakan dalam kemuliaan.
Refleksi:
1. Apakah kita sungguh percaya bahwa Allah tetap berdaulat atas setiap situasi hidup kita?
2. Bagaimana kita menunjukkan nilai-nilai Kerajaan Allah dalam keluarga, pekerjaan, dan masyarakat?
3. Apakah pengharapan kita lebih tertuju pada hal-hal duniawi atau pada janji Allah tentang Kerajaan-Nya yang kekal?