MENGUASAI DIRI DALAM KERENDAHAN HATI & MELAYANI

Mikha 3:5–12| 1 Tesalonika 2:9–13 |  Matius 23:1–12

Salah satu krisis yang seringkali tidak disadari oleh masyarakat dan penyelenggara pemerintah apalagi para politikus adalah krisis karakter. Akibatnya, bermunculan orang-orang berpengaruh di berbagai situasi tetapi tidak memiliki karakter yang baik dan berdampak pada kuallitas hidup masyarakat dan penyelenggaraan negara secara umum yang relatif menurun. Krisis ini terjadi pada masa Nabi Mikha, yang mengakibatkan penyesatan skala nasional (Mik. 3:5) dan berbagai keburukan lain di tengah bangsa Israel kuno. Dengan tuntunan Roh Tuhan, Nabi Mikha menyatakan bahwa Tuhan Allah dengan keadilan-Nya akan menyatakan ketegasan dan penghukuman atas mereka.

Krisis karakter terjadi juga di masa Tuhan Yesus ketika harus berhadapan dengan kelompok elit agama Yahudi. Para Ahli Taurat dan orang-orang Farisi menginginkan peran dan validasi seperti Nabi Musa, tetapi mereka munafik. Mereka mengajarkan berbagai ketetapan agama kepada masyarakat, tetapi mereka sendiri tidak melakukannya. Belum lagi upaya dan sikap untuk mendapat penghormatan dengan penampilan agamis yang mencolok. Tuhan Yesus kemudian mengajar kepada orang banyak dan para murid bahwa mereka harus memiliki sikap rendah hati sedemikian rupa sambil terus taat kepada Allah Bapa dan Kristus (Sang Mesias). Kerendahan hati ini justru akan membangun karakter sehat di tengah komunitas dan masyarakat yakni sikap saling melayani dengan kasih.

Sikap saling melayani dengan kasih ditunjukkan dalam pelayanan Rasul Paulus dan kawan-kawan pekabar Injil, salah satunya di Tesalonika. Pekabaran Injil Rasul Paulus dan kawan-kawan membutuhkan biaya besar terutama karena banyak tujuan dan perjalanan yang mereka lakukan. Tentu jemaat yang mereka layani, menyediakan kebutuhan mereka. Namun Paulus dan kawan-kawan memilih untuk tetap bekerja (konteksnya sebagai pembuat tenda {Kis. 18:3}) agar tidak membebani jemaat Tesalonika. Di sisi lain, jemaat Tesalonika menyatakan ketaatan mereka dalam iman dengan hidup sesuai dengan kehendak dan firman Allah. Sikap ini menunjukkan bahwa pekabaran Injil yang dilakukan Paulus dan kawan-kawannya telah dan semakin hidup di antara jemaat Tesalonika. Hal ini penting dalam membangun karakter Kristiani di tengah komunitas dan pribadi jemaat agar semakin taat kepada Allah dan menuruti firman-Nya.

Karakter Kristiani dibangun dengan tuntunan Roh Kudus, sehingga membuahkan penguasaan diri. Hal ini terjadi ketika orang percaya berserah dan taat kepada tuntunan dan firman-Nya dalam kerendahan hati. Sikap rendah hati karena penguasaan diri sangat diperlukan dalam pelayanan kepada sesama. Karakter yang menguasai diri, rendah hati, dan taat kepada Tuhan Allah dalam tuntunan Roh harus dimiliki oleh setiap orang, apalagi mereka yang memiliki otoritas dan kekuasaan yang mempengaruhi kehidupan banyak orang. Oleh karena itu mari semakin kita sadari pentingnya karakter yang sesuai firman Tuhan dalam hidup bersama. Mari kita mulai dari diri sendiri dan kita tularkan kepada orang-orang di sekitar kita melalui saling meneladani. Tuhan Yesus memberkati.

Untuk pendalaman:

1) Apa saja tanda krisis karakter di tengah keluarga, masyarakat, dan hidup berbangsa-bernegara?

2) Karakter seperti apa yang kita butuhkan dan kita wujudkan di tengah keluarga, masyarakat, dan berbangsa?

3) Karakter dan sikap apa saja yang dapat kita wujudkan di tengah hidup bersama sesuai firman Tuhan?