MENGHADAP ALLAH, MENEGAKKAN ALTAR KELUARGA
Keluaran 33:12-23 | Mazmur 9 | 1 Tesalonika 1:1-10 | Matius 22:15-22
Keterbatasan manusia seringkali membuat penghayatan iman menjadi begitu kaku, padahal Allah berada dengan segala Kemahakuasaan-Nya dinyatakan kepada manusia dengan begitu kaya dan dinamis. Menghadap Allah tidak hanya terbatas pada ritus khusus, tetapi sejatinya terjadi setiap saat dalam hidup manusia karena Dia Mahahadir. Oleh karena itu, penghayatan iman tentang menghadap kepada Allah harus disertai dengan keterbukaan iman terhadap kekayaan dan keluasan kuasa dan karya Allah akan manusia.
Bacaan dari Matius 22:15-22 merupakan kisah terkenal di mana orang-orang Farisi mencoba menjebak Yesus dengan pertanyaan tentang membayar pajak kepada kaisar. Permusuhan para pemuka agama terhadap Tuhan Yesus semakin nyata. Mereka menggunakan segala cara untuk menghentikan Dia. Orang Farisi yang anti penjajah Romawi, kini berkomplot dengan orang Herodian sahabat Herodes, boneka kaisar. Mereka bersatu untuk menjebak Tuhan Yesus, dan ingin juga menggiring Yesus agar terpojok. Bila Yesus mengatakan tidak perlu membayar pajak, orang Herodian akan menuduh Yesus memberontak terhadap pemerintahan Romawi. Sebaliknya, bila Yesus setuju, Dia akan kehilangan popularitas di mata rakyat.
Yesus tidak langsung menjawab tetapi balik bertanya. Pertanyaan itu memaksa mereka mengakui kenyataan tentang kekuasaan kaisar, juga bahwa mereka sendiri tunduk kepadanya. Semua orang Israel waktu itu pastilah menggunakan mata uang itu untuk kegiatan hidup mereka sehari-hari. Pantaslah mereka membayar pajak kepada pemerintah Romawi. Tidak berhenti di situ, Yesus kemudian menyatakan bahwa ada kuasa lain yang semua manusia harus perhitungkan, yaitu kuasa Allah. Kuasa kaisar terbatas, maka ketundukan kepadanya pun terbatas; kuasa Allah mutlak, maka ketundukan kepada-Nya pun tanpa syarat (ayat 21b). Jawaban Tuhan Yesus ini mencengangkan semua lawannya (ayat 22). Dia mendesak mereka mengakui kekuasaan terbatas pemerintah sambil taat penuh kepada Allah. Respons Yesus yang sangat bijak, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah” (Matius 22:21), menjadi dasar penting dalam kehidupan beriman. Ketika dikorelasikan dengan tema “Menghadap Allah, Menegakkan Altar Keluarga,” nats ini memberikan fondasi yang kuat tentang prioritas hidup dan tanggung jawab kita di dalam keluarga.
Bahan perenungan yang menginspirasi kita untuk membangun altar keluarga adalah, sbb.:
1. Mengembalikan Apa yang Menjadi Milik Allah. Yesus menunjukkan koin dinar yang bergambar kaisar dan menyatakan bahwa itu milik kaisar. Namun, perenungan yang lebih dalam adalah: Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kejadian 1:27). Diri kita, pasangan kita, dan anak-anak kita membawa “gambar” Allah. Oleh karena itu, seluruh kehidupan keluarga kita adalah milik Allah. Menegakkan altar keluarga berarti kita secara sadar menyerahkan kembali keluarga kita kepada Allah melalui doa, penyembahan, ketaatan laku dalam kasih, dan firman.
2. Keseimbangan Tanggung Jawab (Dunia dan Rohani). Yesus tidak menolak kewajiban sipil (membayar pajak), tetapi Dia menegaskan bahwa kewajiban kepada Allah tidak boleh diabaikan. Di tengah kesibukan mengejar kebutuhan duniawi (bekerja, sekolah, mencari nafkah {urusan “kaisar”}), keluarga sering kali lupa menyediakan waktu untuk Tuhan. Altar keluarga adalah benteng yang menjaga agar keluarga tidak terseret oleh arus duniawi dan tetap memiliki fokus yang intim dengan Tuhan (urusan Allah).
3. Altar Keluarga sebagai Ruang “Menghadap Allah.” Orang Farisi menghadap Yesus dengan kemunafikan dan motivasi yang menjebak. Sebaliknya, saat kita membangun altar keluarga, kita datang bersama seluruh anggota keluarga dengan hati yang tulus dan haus akan kebenaran. Altar keluarga menjadi tempat di mana orang tua dan anak-anak merendahkan diri bersama di hadapan Allah, tempat untuk saling mendoakan, mengaku dosa, dan mengalami pemulihan hubungan di dalam rumah tangga.
Bangun dan pelihara altar keluarga, sehingga kehadiran, penyertaan, dan berkat-Nya terus kita rasakan dalam setiap langkah hidup anggota keluarga kita. Tuhan memberkati. Amin.