MELAYANI SESAMA SEBAGAI MITRA ALLAH
Lukas 10:1-11, 17-20
Berbicara tentang pelayanan dan melayani sesama, kita perlu menyadari satu hal. Melayani itu bukan berarti kita sedang membantu Tuhan karena Tuhan tidak sanggup atau kekurangan tenaga. Tuhan Allah sanggup mengerjakan segala sesuatu tanpa kita, tetapi la memilih melibatkan kita dalam pekerjaan-Nya.
Bacaan Lukas 10 di atas menceritakan tentang Tuhan Yesus yang mengutus tujuh puluh murid yang pergi berdua-dua. Mereka bukan orang-orang hebat yang bekerja sendirian, tetapi orang-orang biasa yang diberi kepercayaan untuk menjadi mitra Allah menjangkau sesama. Artinya setiap kita yang mau dipakai Tuhan, memiliki tempat dalam pekerjaan-Nya.
1. Allah mengutus kita untuk menjadi berkat. ”Kemudian dari pada itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua … ” (Lukas 10:1). Mereka tidak disuruh tinggal dan menikmati berkat sendiri. Mereka diutus untuk datang kepada orang lain. Melayani berarti membawa kasih, pertolongan, penguatan, dan kabar baik kepada sesama. Kutipan mutiara: ”Tangan yang mau melayani adalah tangan yang Tuhan pakai untuk menyentuh kehidupan orang lain.”
2. Melayani berarti hadir bagi kebutuhan sesama. Yesus berpesan kepada yang diutus ketika masuk ke sebuah rumah, mereka harus berkata: ”Damai sejahtera bagi rumah ini.” (Lukas 10:5). Pelayanan bukan hanya berbicara dan membagikan kata-kata. Pelayanan juga diwujudkan dengan hadir, mendengar, menolong, menguatkan, dan membawa damai. Ada orang yang tidak membutuhkan perkataan yang panjang, namun mereka hanya membutuhkan orang yang mau mendengar, hadir, dan peduli.
3. Jangan ukur pelayanan hanya sekadar dari hasil, tetapi dari kesetiaan. Ketika tujuh puluh murid kembali, mereka bersukacita karena kuasa Tuhan bekerja melalui mereka. Tetapi Yesus mengingatkan: ”Janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga.” (Lukas 10:20). Keberhasilan terbesar dalam pelayanan bukanlah berapa banyak orang mengenal kita, atau seberapa besar skala pelayanannya, atau berapa banyak hasilnya, tetapi apakah kita setia kepada Tuhan dalam segala hal dan pelayanan yang kita lakukan.
Untuk memperdalam penghayatan kita tentang pelayanan secara konkrit, mari kita perhatikan beberapa catatan berikut. Pelayanan itu seringkali dimulai dari hal-hal yang kecil dan sederhana, dan bisa jadi hanya ditujukan kepada satu orang pada satu waktu. Nampaknya hanya hal kecil, tetapi pelayanan itu berarti besar. Pelayanan itu ditumbuhkan kepada aras yang lebih luas dan skala yang semakin besar. Kesulitannya akan bertambah, jangan sampai lengah. Oleh karena itu, mintalah hikmat dari Allah agar kita dimampukan mengelola hal-hal yang kecil sampai hal-hal yang besar dan kompleks. Pada akhirnya, pelayanan yang kita lakukan bukanlah agar kita dipuji orang. Kita adalah mitra Allah yang diutus-Nya menghadirkan kasih-Nya bagi sesama dan dunia. Segala kemuliaan adalah milik Allah. Tuhan memberkati. Amin.
Refleksi:
1) Kisah pelayanan apa atau siapa yang pernah menjadi motivasi kita untuk melayani?
2) Bagikan kisah pelayanan dari yang kecil sampai yang besar.
3) Bagaimana kita menjaga kesetiaan dalam pelayanan kepada sesama sebagai mitra Allah dan menjadi saluran kasih Allah?