MENDAPAT KELEGAAN DAN BERJALAN BERSAMA TUHAN

Matius 11: 16–19, 25–30

Manusia umumnya mampu menyesuaikan diri dengan berbagai kerumitan hidup, dan bahkan pada suatu titik hidup kemudian menjadi pemilih atau selektif terhadap banyak hal sehingga mengatur hidupnya untuk lebih fokus. Akan tetapi pengalaman-pengalaman hidup ini terkadang membawa kita pada suatu proses panjang, pergumulan yang tak kunjung selesai, keputusan hidup yang keliru, peristiwa hidup yang disesali, relasi yang sulit diperbaiki, atau pun berbagai tanggung jawab besar yang seakan-akan lebih besar dari kemampuan kita. Dengan melihat pada firman Tuhan dan janji kasih-Nya, tanpa mengabaikan setiap pengalaman yang mendewasakan dan menguatkan kita tersebut, tema hari ini menolong kita untuk hidup dengan lebih terarah kepada-Nya.

Kita belajar dari kekayaan perkataan Tuhan Yesus dalam sebagian bacaan dari Injil Matius di atas. Ayat 16–19 menunjukkan kritik Tuhan Yesus kepada orang-orang Yahudi yang selalu berkilah ketika menyaksikan dan mendengar tentang Yohanes Pembaptis dan Yesus yang membawa dan mengajar tentang kebenaran dan Kerajaan Surga. Bagi mereka, Yohanes dan Tuhan Yesus selalu di kondisi yang serba salah, hanya untuk melindungi ego dan gengsi mereka dan justru menjauhkan mereka dari kebenaran Allah yang dinyatakan-Nya. Maka Tuhan Yesus menekankan, bahwa hikmat Allah tidak bergantung pada penilaian manusia, melainkan dari perbuatan, peristiwa, dan buah-buah yang membuktikannya. Sikap tegas dan teguh diperlukan di saat ada banyak penolakan yang membuat kita tidak nyaman, dengan tetap setia kepada firman Tuhan dan belajar hikmat-Nya.

Ayat 25 – 27 masih berkaitan dengan keprihatinan Tuhan Yesus, dan dinyatakan dalam seruan-Nya kepada Bapa. Tuhan Yesus menyayangkan mereka yang merasa hebat dan berpengetahuan, dan kemudian menolak penyataan Allah dalam diri Yesus karena kesombongan mereka. Allah Bapa berkenan menyatakan Diri kepada orang-orang yang rendah hati dan mau membuka diri bagi karya-Nya. Dengan melihat kepada Tuhan Yesus, manusia telah melihat kepada Allah Bapa, selaras juga dengan firman-Nya dalam Injil Yohanes. Dan terakhir, ayat 28 – 30 adalah sapaan dan panggilan Tuhan Yesus kepada banyak orang yang dalam kerinduan dan kehausan akan kebenaran dan kasih Allah. Pada masa itu, banyak kalangan Agama Yahudi sangat menekankan berbagai hukum dan peraturan agama yang tidak substansial, sehingga sangat membebani masyarakat. Bahkan tidak hanya agama, beban masyarakat juga dialami karena kondisi sosial, hukum, politik, ekonomi, dan persoalan atau kondisi pribadi.

Setiap orang yang hidupnya terbeban karena berbagai keadaan, dalam kehausan spiritual, dalam kerinduan kepada Allah, dan dalam penantian akan pengharapan harus datang kepada Tuhan Yesus. Kuk-Nya enak dan beban-Nya ringan karena Tuhan tidak pernah membiarkan kita anak-anak-Nya berjuang sendirian, melainkan kita selalu diberi-Nya kuasa dalam Roh, kekuatan, berkat pemeliharaan, dan pengharapan nyata untuk kita alami. “Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan keluar, sehingga kamu dapat menanggungnya” (1 Kor. 10: 13b). Tuhan selalu ada bersama kita, berjalan bersama kita melalui segala peristiwa dan sekarang sampai selamanya. Meskipun di dalam pergumulan, bersama Tuhan, ada kelegaan dan damai sejahtera. Tuhan Yesus memberkati. Amin. Refleksi bersama: 1) Apakah orang yang sedang dalam pergumulan yang berat bisa merasakan damai sejahtera? Bagaimana contohnya? 2) Berserah, mengandalkan Tuhan, dan berjalan bersama Tuhan membutuhkan kesadaran diri yang kuat di tengah berbagai pergumulan. Bagaimana cara kita memastikan diri terus bersama Tuhan di tengah badai kemelut kehidupan?