DISATUKAN DALAM DOA DIGERAKKAN OLEH KUASA

Kisah Para Rasul 1: 6 – 14 | Yohanes 17: 1 – 11

Membaca tentang Tuhan Yesus yang berdoa, tidak sedikit orang Kristen maupun non-Kristen yang kemudian terpantik untuk berpikir dan bertanya tentang hal itu. Kalau Tuhan Yesus adalah Allah sejati yang turun ke dunia menjadi manusia, mengapa Yesus berdoa kepada Bapa? Dalam PPA (Pokok-pokok Ajaran) GKJ 2019 di pertanyaan nomor 45, terdapat jawaban sebagai berikut: “Tentang Yesus yang berdoa kepada Bapa dapat kita pahami atas dasar penalaran bahwa Yesus adalah Allah yang masuk melibatkan diri di dalam kehidupan manusia dengan cara yang begitu manusiawi dan menjalani kehidupan-Nya dengan cara yang manusiawi pula. Dalam hal Yesus yang berdoa kepada Bapa, Ia menempatkan diri dalam posisi menggantikan manusia.” Manusia memiliki harapan yang dipanjatkan dalam doa-doa kepada Bapa. Harapan tentang manusia yakni para murid Yesus, diungkapkan dan disampaikan dalam doa-doa-Nya kepada Bapa. Juga satu hal yang pasti, Yesus Sang Guru adalah Guru dan teladan kehidupan, dan doa-doa-Nya adalah teladan kita juga.

Mengapa orang Kristen berdoa? Secara rohani, doa adalah nafas orang beriman. Mengapa murid-murid Tuhan harus disatukan dan bersatu dalam doa? Doa adalah salah satu jalan bagi orang untuk meninggalkan egonya dan hidup dalam Roh dan kasih yang sejati. Doa sebagai komunikasi manusia dengan Allah, menunjukkan bahwa setiap orang yang berdoa harus rendah hati dan menyerahkan diri, karena hidupnya terbuka sepenuhnya di hadapan Allah. Dengan disatukan dalam doa, orang-orang percaya bersatu dalam pengharapan dan kasih yang disertai campur tangan karya Allah bagi manusia yang dinyatakan dalam kuasa-Nya. Kuasa Allah inilah yang menggerakkan manusia, yakni pekerjaan Roh Kudus menyertai, menuntun, membimbing, dan menguatkan orang-orang percaya.

Pada akhirnya doa-doa bukanlah sesuatu yang kosong atau sia-sia. Doa bukanlah kegiatan pasif. Dan jangan sampai doa diperlakukan hanya sebagai doa belaka, karena doa pasti dan harus disertai dengan tindakan dan aksi nyata dari orang-orang percaya. Barangkali kita pernah mendengar nasihat berikut: Doakan yang engkau kerjakan, kerjakan yang engkau doakan. Kita mampu mewujudkan harapan dan doa-doa kita karena ada kuasa Allah oleh Roh Kudus yang menolong kita. Menyambut Pentakosta, marilah kita hidupi keutuhan hidup kita dalam aksi nyata dan doa yang tulus. Mari kita belajar lebih lanjut lagi: 1) Apa yang membuat banyak orang seakan-akan masih suka memisahkan kehidupan rohani dan doa-doanya dari tindakan nyata sehari-hari? 2) Bagaimana cara kita untuk bisa konsisten terus mewujudkan doa dan harapan dalam tindakan kita sambil berserah kepada Allah dan tetap melakukan yang terbaik meskipun menghadapi tantangan? 3) Ketika kita memohon doa/ mendoakan sesuatu yang sangat besar, misalnya tentang perdamaian dunia, apa yang bisa kita lakukan untuk tetap terlibat dalam aksi nyata sesuai doa-doa kita? Roh Kudus melengkapi sepanjang hidup kita. Amin.