Currently browsing category

Renungan, Page 24

Tujuanku, Tujuan-Mu

Lukas 9 : 28-36   Kehidupan manusia tidak lepas dari karya Tuhan yang tetap berlangsung mulai dari dahulu, hari ini, besok dan selama-lamanya. Dia tetap Tuhan, Allah yang hidup yang memiliki kuasa, yang membuat mujizat dan keajaiban dan karya keselamatan ada di dalamNya. Dalam Lukas 9:28-36 Tuhan Yesus naik ke …

Melekat Pada Tuhan

Lukas 4 : 1-13   Dalam kehidupan manusia ada dua jenis kebutuhan yaitu kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani. Kebutuhan jasmani adalah kebutuhan …

2 Korintus 3:12  –  4:2

 

Layaknya sebuah cermin, hidup setiap orang percaya dipanggil untuk mencerminkan kemuliaan Allah. Mencerminkan kemuliaan Allah berarti menampakkan gambaran Allah melalui hidup kita.

Melalui diri Tuhan Yesus Kristus, kemuliaan Allah juga dinyatakan dalam rangka karya keselamatan atas manusia. Demikian juga setiap orang percaya hendaknya memantulkan kemuliaan Allah melalui sikap dan tingkah laku, bahkan seluruh karya hidup sehingga seluruh dunia dapat melihat kasih Allah.

Bagaimana seseorang dapat mencerminkan kemuliaan Allah? Ia terlebih dahulu harus mengalami perjumpaan secara pribadi dengan Tuhan, sebagaimana Musa berjumpa dengan Tuhan, yang mengakibatkan wajah Musa memancarkan cahaya. Melalui peristiwa ini Allah kemudian mengutus Musa untuk menyampaikan firmanNya untuk umat Israel. Umat tidak perlu takut kepada kemuliaan Allah, melainkan menerima dan melakukan firmanNya dengan rasa hormat dan taat.

Demikian juga pengajaran yang disampaikan oleh Rasul Paulus. Setiap orang yang bertobat dan percaya kepada Tuhan Yesus Kristus telah mengalami perjumpaan dengan Tuhan dan menerima Roh Kudus. Oleh kuasa Roh Kudus, kita akan dimampukan melakukan kehendak Allah dan menjadi serupa dengan Kristus, sehingga kemuliaan Allah akan tampak melalui hidup kita yang menyerupai hidup Kristus yang adalah gambaran Allah secara fisik.

Jemaat yang dikasihi Tuhan, realitas kehidupan dunia semakin mengalami perubahan di segala aspek, baik dibidang teknologi, kehidupan sosial maupun didalam budaya masyarakat. Mau tidak mau setiap orang harus mengikutinya. Perubahan tersebut memberi dampak baik dan buruknya. Terjadinya perubahan mengakibatkan manusia menjadi semakin egois, lebih mementingkan diri sendiri sehingga damai sejahtera tidak terwujud, kejahatan semakin merajalela.

Untuk itulah Gereja diutus untuk mencerminkan kemuliaan Allah yang memerdekakan, menyelamatkan dan menghadirkan kerajaan Allah (kedamaian, ketenangan, kesejukan) di tengah-tengah kehidupan masyarakat.

Mencerminkan kemuliaan Kristus berarti memancarkan sifat Allah melalui diri kita. Menjadikan orang yang kita jumpai seolah-olah melihat sosok Allah ketika bersama dengan kita. Membuat mereka damai oleh kehadiran kita. Melalui tutur kata yang sopan dan membangun, kerendahan hati, kepedulian dan kasih yang tulus, serta seluruh sikap seperti Kristus dalam bertindak. Untuk itulah marilah segala kegiatan Gereja, keluarga, pekerjaan dan seluruh aktifitas kehidupan kita sebagai sarana untuk menjadi saksi kemuliaan Allah secara nyata. Sehingga melalui hidup kita, kemuliaan Allah yang memerdekakan dan menyelamatkan sungguh nyata dirasakan oleh banyak orang. Tuhan memberkati kita.

Dipanggil Untuk Mencerminkan Kemuliaan Allah

2 Korintus 3:12  –  4:2   Layaknya sebuah cermin, hidup setiap orang percaya dipanggil untuk mencerminkan kemuliaan Allah. Mencerminkan kemuliaan Allah berarti …

Siap di Utus, Siap di Tolak

Yeremia 1 :  4-10   Tema minggu ini cukup menarik, siap diutus, siap ditolak. Tentu, yang namanya ditolak itu menyakitkan. Rasanya tidak …

Hidup Dalam Mujizat Tuhan

Yohanes 2 : 1- 11   Bapak, ibu, saudara yang dikasihi Tuhan. Tema renungan kita minggu ini adalah “Hidup dalam Mujizat Tuhan”. …

Hidup Yang Berkenan Bagi Allah

Lukas 3 : 15-17, 21-22   Kita sering mendengar orang berkata: “Apapun yang kamu perbuat tergantung motivasimu”. Ungkapan ini mengandung arti semua …

Filipi 4:4-7

 

Bersukacita adalah suatu sikap dan pilihan bagi orang percaya dalam menjalani hidup, karena hidup orang percaya adalah hidup yang berpengharapan, yaitu pengharapan akan keselamatan yang diberikan oleh Tuhan.

Tuhan sudah dekat, berarti bahwa pengharapan orang percaya akan keselamatan akan segera terwujud. Oleh karena itu Rasul Paulus menasihatkan untuk senantiasa bersukacita.

Sukacita orang percaya menanggapi/menyambut pengharapan (Tuhan sudah dekat) harus diwujudkan dalam hal :

  • Beriman (dalam Tuhan, ayat4). Menghadapi segala sesuatu dengan tetap percaya akan kasih setia Tuhan yang menyelamatkan.
  • Bersyukur, menerima segala sesuatu yang terjadi dengan senang, karena dalam hal itu tidak dapat dipisahkan dengan rencana dan kehendak Tuhan yang baik.
  • Bersaksi, melalui sikap hati dan perbuatan baik kepada semua orang.
  • Berpikir positif, mengarahkan pikiran kita kepada hal-hal yang baik.

Sikap hidup seperti itulah yang menjadi tanda orang bersukacita menyambut kedatangan Tuhan yang sudah dekat.

Tuhan sudah dekat, itu berarti bahwa pengharapan orang percaya akan keselamatan segera tiba.

Sudahkah kita bersukacita ?

Tuhan memberkati. Maranatha, amin.

Bersukacitalah Karena Tuhan Sudah Dekat

Filipi 4:4-7   Bersukacita adalah suatu sikap dan pilihan bagi orang percaya dalam menjalani hidup, karena hidup orang percaya adalah hidup yang …

Lukas 3 : 1-6

 

Dalam perjanjian lama para nabi mengajak umat Israel supaya bertobat, artinya berbalik dari penyelewengan dan dosa lalu kembali kepada Allah serta berjalan hidup sesuai dengan hukum Allah.

Dalam Perjanjian Baru bertobat berkaitan dengan kesesatan dosa dan kejahatan (Lukas 15: 7,24,47, Kis Pr Rsl 3: 19, 5:31, 8:22) dan kembalinya manusia kepada Allah sejati (Kis Pr Rsl 14:15).

Pemberitaan Injil Lukas 3:3 “maka datanglah Yohanes ke seluruh daerah Yordan dan menyerukan bertobatlah dan berikan dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu”.

Berbeda dengan para nabi dahulu yang mengajak orang kembali ke hukum Taurat (bdk Lukas 3:8, 10:14). Alasan untuk bertobat ialah penghakiman Allah yang sudah dekat (Lukas 3:7-9). Karena bertobat orang diampuni dosa-dosanya, sehingga dalam penghakiman kelak terluput dari murka Allah dan menjadi selamat. Pengampunan dari Tuhan disambut dengan pertobatan oleh manusia. Tobat (dalam bahasa Yunani metanoia) yang artinya adalah pembaharuan hati. Hal ini dapat dijelaskan dalam perumpamaan tentang orang yang berhutang (Lukas 7:41-43). Kedua orang berhutang tersebut melambangkan orang berdosa, dengan begitu saja hutangnya dihapus oleh tuannya (Allah) lalu mereka masing-masing menyambutnya dengan pembaharuan hati. Dengan perkataan lain pertobatan merupakan suatu tanggapan atas kebaikan hati Allah yang dialami orang berdosa. Manusia berdosa, hanya melalui pertobatan dapat menyiapkan dengan baik ke jalan yang diperkenan di hadapan Tuhan.

Pertobatan digambarkan sebagai meluruskan jalan; dari hati manusia yang tidak baik, penuh dosa, kejahatan dan sesat berbalik di jalan yang lurus/rata menjadi hati yang lurus sebagai jalan untuk menyambut kedatangan Yesus yang kedua.

Hati yang lurus yang telah mengalami pembaharuan, berjalan dengan Tuhan akan nampak dalam perbuatan kita sehari-hari sehingga akan berpengaruh baik secara langsung maupun tidak langsung dalam mengabarkan karya penyelamatan kapanpun dan dimanapun berada.

Panggilan pertobatan itu dimulai pada waktu tertentu dalam hidup seseorang yang yang menyebabkan terjadinya perubahan total, memutuskan hubungan masa lalu yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kebenaran dan selanjutnya hidup tidak lagi berpusat pada dirinya melainkan kepada Yesus Kristus Allah Penyelamat.

Bapak/ibu/saudara mari kita tetap dalam kehidupan penuh pertobatan karena sepanjang hidup kita masih tidak selalu lurus dan benar, dengan pertobatan kita diingatkan untuk mawas diri serta menyesal mohon pengampunan sehingga tetap berada didalam jalan keselamatan.

Tuhan memberkati.

Panggilan Pertobatan

Lukas 3 : 1-6   Dalam perjanjian lama para nabi mengajak umat Israel supaya bertobat, artinya berbalik dari penyelewengan dan dosa lalu …