BERKOMITMEN UNTUK BERUBAH
Matius 17: 1-9
Saudara yang terkasih dalam Tuhan, pada saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar, dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam kita dikenalkan dengan istilah metamorfosis. Proses perubahan wujud yang terjadi pada hewan, dimulai dari telur hingga menjadi hewan dewasa (sempurna). Kita ambil contoh misalnya kupu-kupu. Jika kupu-kupu itu mempunyai akal-budi layaknya manusia, mungkin mereka akan berpikir bahwa lebih enak menjadi telur atau kepompong saja. Mereka tidak harus bersusah-payah “mempertahankan diri”. Mati, ya mati; hidup, ya hidup. Ya, karena dalam fase tersebut mereka belum mampu mempertahankan diri. Namun karena “ketetapan” kehidupan, mereka harus terus berkembang untuk menjadi hewan dewasa.
Ayat 2 dalam bacaan ini kita kenal dengan peristiwa transfigurasi atau berubah rupa – dalam waktu yang tidak lama – namun sangat mengubah suasana. Peristiwa transfigurasi tentu tidak serta-merta bisa disandingkan dengan proses metamorfosis. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering diperhadapkan dengan situasi bahwa dalam keadaan tertentu yang menyenangkan, kita enggan untuk “segera sadar”. Keinginan hati akan selalu memaksa kita untuk terus menikmati kesenangan, seperti Petrus yang ingin mendirikan tenda agar mereka bisa berlama-lama di atas gunung itu. Hal ini juga terjadi di masa kepemimpinan Musa dan Harun pada umat Israel. Mereka yang sudah sangat terbiasa hidup “enak” di Mesir meskipun menjadi budak, dan di dalam perjalanan jauh dan membosankan harus dipaksa sadar bahwa hidup ternyata punya dinamika yang bervariasi dan ditata sesuai dengan ketetapan Allah. Apalagi bahwa kehidupan umat Israel saat itu, hanya bergantung pada penyertaan tangan Allah.
Saudara yang terkasih dalam Tuhan, hari ini kita diingatkan melalui peristiwa transfigurasi Yesus, yang disaksikan langsung oleh murid-murid yang sangat dekat dengan-Nya. Transfigurasi adalah peristiwa di mana Yesus berubah rupa dengan disertai pakaian-Nya yang putih berkilau-kilauan. Peristiwa transfigurasi mengajak umat untuk tidak berlarut dalam romantisme sekejap saja. Transfigurasi justru hanya merupakan sebuah jembatan semata, di mana Allah ingin menunjukkan bahwa sebentar lagi Anak Manusia akan menderita. Suatu peristiwa yang mengubah dunia selamanya, dari hidup dalam kuasa dosa dan ancaman maut, menjadi kehidupan yang anugerahi keselamatan dari Allah oleh Yesus Kristus. Dalam keadaan yang demikian, kita diajak menyadari tentang keberadaannya. Di mana manusia yang berdosa disadarkan untuk bersedia diubahkan melalui kemuliaan Allah. Mari kita bercermin dalam realita kehidupan masa kini. Masing-masing dari kita, tentu sadar akan dinamika kehidupan yang sedang dijalani. Kadang menyenangkan, atau bahkan mungkin lebih sering menyusahkan. Dalam keadaan yang demikian, kita diingatkan bahwa semuanya tentu akan berubah. Baik pada saat menyenangkan, lebih-lebih pada saat tidak menyenangkan sekalipun. Sadarilah bahwa segala sesuatu itu pasti akan berubah. Maka diperlukan komitmen untuk melewati itu semua. Jangan mempunyai keengganan untuk berubah, namun justru punyailah komitmen untuk selalu berubah. Tentu menuju keadaan yang lebih baik, apalagi itu merupakan kehendak Tuhan. Marilah kita senantiasa memperbaiki perilaku untuk menjadi lebih baik, tentu merupakan tujuan kita. Namun hambatan tentu akan terus ada dan melengkapi perjalanan kehidupan bagi kita semua. Selamat berjuang untuk selalu mengalami Perubahan hidup. Tuhan memberkati. Amin