MEMBANGUN PERADABAN YANG HIDUP DI HADAPAN ALLAH

Pengkhotbah 1:2, 12-14, 2:18-23  |  Kolose 3:1-11  |  Lukas 12:13-21

Pernahkah kita terpikir bahwa kehidupan ini adalah sebuah kesia-siaan? Kita bangun pagi, berangkat kerja, berlelah-lelah di kantor, di sekolah, di pabrik, di pasar, di jalan, di rumah, atau di mana pun kita bekerja dan berkarya, lalu kembali pulang, beristirahat dan tidur, untuk esoknya kembali melakukan yang sama, lagi dan lagi. Untuk apa itu semua kita lakukan? Apakah untuk sekadar bertahan hidup? Apakah untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang tiada habisnya sampai akhir hayat? Apakah untuk mengumpulkan harta dengan harapan suatu saat kita akan mencapai “kebebasan finansial”? Atau apa? Kehidupan bisa menjadi sia-sia dan “miskin” jika kita hanya menikmati hidup untuk diri sendiri. Sebaliknya, kita bisa menjadikan kehidupan bermanfaat dan “kaya” jika kita merayakannya sebagai manusia baru bersama Allah dan sesama.

Sebagai manusia yang penuh kelemahan daging seringkali kita hanya fokus pada persoalan dan kesulitan hidup yang kita hadapi, sehingga melupakan sebenarnya bagaimana yan g Tuhan kehendaki dalam hidup ini. Rasul Paulus kepada jemaat di Kolose  mengingatkan mereka tentang kehidupan lama yang duniawi, yang disebutnya sebagai “manusia lama”. Paulus mengajak umat Kristen di Kota Kolose, untuk mematikan segala perbuatan percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat, dan keserakahan. Lebih spesifik lagi, Paulus mengingatkan akan bahaya amarah, dendam, kejahatan, fitnah, kata-kata kotor/ makian, dan juga dusta atau kemunafikan.

Rasul Paulus mengingatkan bahwa kita semua telah ditebus oleh Kristus, dan niscaya mengenakan kehidupan baru sesuai nilai-nilai Kristus dan menjadi manusia baru. Manusia baru bukanlah sebuah momen, melainkan proses di mana seorang pengikut Kristus “terus-menerus diperbarui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Penciptanya.” Gambar Sang Pencipta itu adalah sosok pribadi Yesus Kristus yang menjadi citra baru bagi semua orang.  Kemanusiaan yang baru di dalam Kristus mengubah cara hidup dan cara berpikir para pengikut Kristus, sehingga tidak lagi memikirkan hal-hal duniawi (yang memuaskan nafsu dan keinginan pribadi) melainkan mencari “hal-hal yang di atas, di mana Kristus ada” (yang membangun Kerajaan Allah), yaitu belas kasih, kemurahan hati, kerendahan hati, kelemahlembutan, dan kesabaran.  Itulah yang disebut “kaya di hadapan Tuhan.” Sudahkah kita melakukan kehendak Tuhann dalam hidup ini? Marilah dengan kerendahan hati kita berlutut dihadapan-Nya, mohon kekuatan sehingga kita dimampukan melakukan kehendak Tuhan dalam hidup ini. Amin.