TERLEPAS DARI BELENGGU

Kisah Para Rasul 16:16-34

Filipi adalah sebuah kota di daerah Makedonia, merupakan salah satu tujuan Rasul Paulus dan rekannya Silas dalam pelayanan misi mereka. Di kota ini Paulus juga mendapatkan tantangan dari orang-orang yang tidak suka akan pemberitaan injil. Bahkan mereka ditangkap dan didera, kemudian dimasukkan ke dalam penjara, seperti tertulis pada ayat 23 & 24.

Semua orang akan berkata bahwa penjara adalah tempat yang sangat tidak menyenangkan. Orang dipenjara umumnya karena kesalahan atau tindak kriminal yang diperbuatnya. Namun tidak demikian dengan Paulus dan Silas. Mereka baru saja melakukan sebuah pelayanan yang sangat memberkati, dimana Injil diberitakan dan mengeluarkan roh tenung dari seorang perempuan. Bukan disambut dengan sukacita, melainkan ditangkap, disiksa, dan dianiaya lalu dipenjara. Namun keadaan tersebut tidak mempengaruhi semangat Paulus dalam mengikut Yesus ataupun memberitakan injil. Bahkan kita melihat bahwa belenggu maupun penjara tidak dapat membungkam dan menghalangi pelayanan mereka.

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak sekali belenggu dosa maupun masalah yang mengikat kehidupan kita. Bahkan terkadang ada episode dalam hidup ini kita seperti terpenjara, sehingga kita merasa bahwa kita tidak sanggup lagi berbuat apa-apa. Pengharapan hilang ditelan oleh keadaan maupun kondisi yang dialami seperti pekerjaan yang tidak menentu, orang-orang di sekeliling yang membenci kita, keuangan yang berkekurangan, rumah tangga maupun keluarga yang bermasalah, maupun teman pelayanan yang sering bertentangan dengan kita. Semuanya itu yang terkadang atau sering kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari.

Seperti yang telah diteladankan oleh Paulus dan rekan-rekan pekabar Injil jemaat mula-mula, marilah dalam keadaan ataupun masalah apapun yang terjadi tidak boleh menghalangi kita untuk tetap setia di dalam Tuhan. Jangan sampai kondisi-kondisi tersebut justru membelenggu bahkan memenjarakan hidup kita sehingga kita tidak dapat memberi yang terbaik bagi kemuliaan nama Tuhan. Berikut beberapa rahasia dari Rasul Paulus sehingga dia dapat terlepas dari belenggu dan penjara:

1. Doa dan Puji-pujian. Kisah Para Rasul 16:25 “Tetapi kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah dan orang-orang hukuman lain mendengarkan mereka.” Penjara tidak membuat Paulus dan Silas bersedih, muram, menangis, putus asa, ataupun stres. Tetapi mereka justru menaikkan doa dan puji-pujian kepada Allah. Doa dan puji-pujian yang dinaikkan akan membawa kekuatan bagi hidup kita, terlebih lagi jika kita berada dalam suatu masalah. Ada kuasa di dalam puji-pujian. Tuhan bertahta di atas puji-pujian kita (Mazmur 22:4).

2. Mempererat Hubungan dengan Tuhan. Filipi 3:10-11 “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati”. Penderitaan dan aniaya yang dialami Paulus tidak membuatnya berhenti untuk mengenal Tuhan, namun justru membuat Paulus lebih mengenal Allahnya. Paulus tahu bahwa pengenalan akan Tuhan merupakan suatu hal yang melebihi segalanya dan merupakan suatu harta yang begitu berharga yang jauh lebih bernilai dibandingkan segala apapun yang ada di dunia ini. Oleh sebab itu, penjara tidak membuat Paulus bersedih, karena dia tahu bahwa dia memiliki sesuatu yang sangat berharga dalam dirinya. Paulus tidak mau melepaskan hal itu, bahkan dia ingin lebih lagi mengenal Kristus agar dia dapat memperoleh mahkota yang sudah disiapkan baginya.

    Masalah maupun pencobaan diijinkan Tuhan bagi hidup kita agar kita dapat lebih mengenal dan mendekat kepada Tuhan. Sakit penyakit, kebangkrutan, kegagalan, dan bahkan pergumulan bertahun-tahun terjadi dalam hidup kita, menjadi kesempatan agar kita dapat semakin mempererat hubungan kita dengan Tuhan. Dan ketika kita semakin intim dan dekat dengan Tuhan, maka tidak ada yang dapat menghalangi dan membelenggu semangat hidup kita, oleh karena sesuatu yang berharga telah menjadi bagian dalam hidup kita. Dan kita tahu pasti bahwa setiap janji-Nya akan digenapi dalam hidup kita.

3. Berpikir Positif. Filipi 4:8 “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” Aniaya dan penjara bisa saja membuat Paulus merasa putus asa, kecewa, dan protes bahkan mengeluh dan bersungut-sungut kepada Tuhan. Tetapi yang kita lihat justru segala sesuatu yang positif keluar dari mulutnya. Dia tahu bahwa pikiran yang positif akan membawa dia kepada kemenangan. Kita mengingat ketika Bangsa Israel berada di padang gurun untuk menuju ke tanah perjanjian, banyak dari mereka yang bersungut-sungut atas keadaan yang mereka alami. Sebagian dari mereka yang bersungut-sungut ini tidak dapat masuk ke dalam tanah perjanjian (Bilangan 14:27-30).

    Ketika kita berpikiran negatif, menggerutu, mengomel dan mengeluh, maka kita sedang menjauhkan berkat yang sebenarnya sudah menjadi bagian kita. Marilah kita senantiasa berpikiran positif dalam apapun keadaan buruk yang kita alami. Dengan demikian maka berkat Tuhan akan mengalir bagi kita. Masalah maupun pencobaan apapun tidak dapat membelenggu hidup kita yang senantiasa berpikiran positif. Kita akan terus melangkah maju meraih kemenangan demi kemenangan.

Rasul Paulus sudah memberikan teladan yang begitu berharga bagi kita semua. Dia melakukan segala kehendak Bapa di surga dalam setiap langkah hidupnya. Penjara dan aniaya tidak dapat membelenggu hidupnya. Bahkan ketika dia tetap menjaga hidupnya murni di hadapan Tuhan, nama Tuhan semakin dimuliakan. Demikian juga kita sebagai umat Tuhan, kita harus tetap menjaga hati kita di hadapan Tuhan. Ketiga rahasia di atas akan membantu kita untuk terlepas dari masalah apapun yang membelenggu kehidupan kita. Haleluya. Tuhan Yesus senantiasa memampukan kita