Currently browsing tag

Berani

Bacaan : Yesaya 50:4-7; Mazmur 118:1-2,19-29; Filipi 2: 6-11; Yohanes 12: 12-16

 

Hidup memang tidak lepas dari berbagai tekanan. Lebih-lebih, hidup di alam modern ini yang menyuguhkan beragam risiko. Seorang sosiolog Ulrich Beck menamai jaman kontemporer ini dengan masyarakat risiko (risk society). Alam modern menyuguhkan perubahan cepat dan tak jarang mengagetkan. Tekanan itu sesungguhnya membentuk watak, karakter, dan sekaligus menentukan bagaimana orang bereaksi di kemudian.

Empat tipe manusia dalam menghadapi tekanan hidup: (1) Tipe Kayu Rapuh: Sedikit tekanan saja membuat manusia ini patah arang. Orang ini gampang sekali mengeluh pada saat kesulitan terjadi; (2) Tipe Lempeng Besi: Orang tipe ini biasanya mampu bertahan dalam tekanan pada awalnya. Namun seperti layaknya besi, ketika situasi menekan itu semakin besar dan kompleks, ia mulai bengkok dan tidak stabil. Orang-orang tipe ini mampu menghadapi tekanan, tetapi tidak dalam kondisi berlarut-larut; (3) Tipe kapas: Tipe ini cukup lentur dalam menghadapi tekanan. Saat tekanan tiba, orang mampu bersikap fleksibel. Cobalah kita menekan sebongkah kapas. Ia akan mengikuti tekanan yang terjadi. Ia mampu menyesuaikan saat terjadi tekanan; (4) Tipe Bola Pingpong: Inilah tipe yang ideal dan terhebat. Jangan sekali-kali menyuguhkan tekanan pada orang-orang ini karena tekanan justru akan membuat mereka bekerja lebih giat, lebih termotivasi, dan lebih kreatif. Coba perhatikan bola pingpong. Saat ditekan, justru ia memantul ke atas dengan lebih dahsyat.

Bagaimana dengan kita sebagai umat percaya dalam menghadapi kenyataan hidup?

Tidak semua orang berani menghadapi kenyataan hidup. Ada yang menghindar, ada yang menolak, ada yang menerima dan menghadapi kenyataan hidup dengan berani. Semua itu bergantung pada keyakinan dan prinsip hidup yang dimiliki orang tersebut.

Bacaan Yesaya 50:4-7, Filipi 2:6-11, Yohanes 12:12-16 sama-sama berbicara tentang keberanian menghadapi kenyataan hidup. Hal tersebut ditunjukkan baik oleh Hamba Tuhan dalam Kitab Yesaya maupun oleh Yesus Kristus sendiri. Keberanian tersebut ada karena:

  1. Sadar akan panggilan hidup yang harus dijalani dengan bertanggung jawab dan konsisten menjalaninya apapun risiko yang harus dihadapi. Dengan demikian, keberanian itu bukan asal berani. Tetapi keberanian karena tujuan yang jelas. Segala risiko dan konsekuensi telah diperhitungkan dengan matang sehingga keberanian tersebut betul-betul didasari kesiapan yang matang.
  2. Yakin bahwa Tuhan pasti menolong setiap orang yang melakukan kebenaran. Pujian bahwa Tuhan baik dan senantiasa membela orang benar dikumandangkan juga oleh Sang Pemazmur dalam Maz. 118:1-2;19-29. Pemazmur justru merasakan perbuatan Tuhan yang ajaib ketika manusia konsisten melakukan kebenaran.
  3. Hamba Tuhan tersebut berelasi intim dengan Tuhan. Dalam relasinya tersebut, ia terus menghayati dan merefleksikan keberadaan diri dan karya layannya.Bacaan Filipi 2:6-11 menceritakan bagaimana Allah memuliakan Yesus Kristus yang telah dengan tuntas melaksanakan karya-Nya. Ini menunjukkan bahwa perjuangan hidup yang penuh dengan keberanian di dalam Tuhan akan membuahkan sesuatu yang baik dan mulia.

    “Semua kesulitan, sesungguhnya merupakan kesempatan bagi jiwa kita untuk tumbuh”.

Hadapi Kenyataan Hidup Dengan Berani

Bacaan : Yesaya 50:4-7; Mazmur 118:1-2,19-29; Filipi 2: 6-11; Yohanes 12: 12-16   Hidup memang tidak lepas dari berbagai tekanan. Lebih-lebih, hidup di alam modern ini yang menyuguhkan beragam risiko. Seorang sosiolog Ulrich Beck menamai jaman kontemporer ini dengan masyarakat risiko (risk society). Alam modern menyuguhkan perubahan cepat dan tak …

Bacaan:   Kisah Para Rasul 7 : 54-60

 

Stefanus adalah martir pertama pengikut Kristus yang meregang nyawa dengan cara yang sadis yaitu dengan hukuman rajam. Itu semua dikarenakan  kesaksian Stefanus tentang Yesus yang kemudian membangkitkan amarah anggota-anggota Majelis Agama. Mereka tidak dapat menerima perkataan-perkataan Stefanus sebagai suatu teguran, namun sebagai perkataan yang menusuk hati yang kemudian membangkitkan amarah besar Mahkamah Agama.

Karena imannya yang kuat kepada Yesus Kristus dan keberaniannya untuk bersaksi itu maka Stefanus dihukum rajam.

Melalui kisah tersebut dapat dilihat bagaimana keberanian dan ketangguhan iman Stefanus. Imannya tidak tergoyahkan meskipun penderitaan dan kematian mengancam dirinya. Keberanian dan ketangguhan Stefanus menjadi saksi atas kesungguhan imannya kepada Yesus.

Yang menarik lagi adalah ketika Stefanus dirajam batu beramai-ramai, ia pasrah kepada Allah dan tidak membenci, apalagi menyumpahi mereka. Yang ia lakukan adalah memohonkan pengampunan kepada mereka yang melempari (ayat 60).

Rasul Yakobus menyatakan: “Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati” (Yakobus 2:17). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa perbuatan harus menjadi saksi bagi iman. Oleh karena itu antara iman dan bersaksi menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

Selanjutnya melalui kisah tersebut kita dapat belajar bahwa :

  1. Beriman berarti berbuat dan bertindak sebagai saksi.
  2. Beriman berarti menanggung akibat/resiko dari kesaksian/tindakan imannya.
  3. Beriman berarti yakin dan pasrah dengan sepenuh hidup kepada Allah.
  4. Beriman tidak memusuhi/membenci, meskipun orang lain menjadikan dirinya menderita/celaka.

Selamat beriman dan bersaksi, Tuhan memberkati.

Beriman & Berani Bersaksi

Bacaan:   Kisah Para Rasul 7 : 54-60   Stefanus adalah martir pertama pengikut Kristus yang meregang nyawa dengan cara yang sadis …

Nabi Natan berkata kepada Daud : Engkaulah orang itu (II Samuel 12:7)

Berani Mengaku Salah

Renungan Minggu, 20 November 2011 Bacaan Kitab Suci : II Samuel 12 : 1-15 Nats : II Samuel 12 : 13 Ketika …