Currently browsing

Page 3

Bacaan : Yeremia 31:31-34 | Mazmur 119:9-16 | Ibrani 5:5-10 | Yohanes 12:20-33

 Dalam hidup sehari-hari, dalam relasi antar manusia ketaatan menjadi hal yang sangat penting. Hubungan orang tua dan anak ; Guru dan murid ; pimpinan dan staf, ketaatan juga sangat penting. Demikian halnya hubungan orang percaya dengan Tuhan.

Semua orang sadar, tahu bahwa berlaku taat itu penting dan harus, namun tidak mudah orang mau dan mampu untuk berlaku taat, lebih-lebih taat kepada Tuhan. Itulah sebabnya berlaku taat adalah adalah suatu proses yang senantiasa harus dipelajari  dan diupayakan.

Melalui bangsa Israel, Pemazmur dan juga Yesus, kita ditunjukkan bahwa berlaku taat/setia itu tidak mudah namun perlu bahkan harus. Kepada bangsa Israel (melalui nabi Yeremia) Allah mengajar bagaimana bangsa Israel harus belajar taat, yaitu dengan cara: “Aku akan menaruh TauratKu kedalam batin dan menuliskannya dalam hati mereka” (Yer. 31:33).

Bangsa Israel akan taat kepada Allah apabila Taurat/Firman Allah ada dalam batin dan hati mereka. Mengapa dalam hati? Karena hati adalah sumber dari segala tindakan manusia. Kalau hati manusia dipenuhi firman Allah maka tindakan manusia menjadi pancaran dari firman Allah.

Belajar dan berlaku taat itu penting. Mengapa?

  1. Taat sebagai wujud hormat dan bakti kita kepada Allah
  2. Taat mendatangkan kebahagiaan dan keselamatan

Menurut pemazmur orang yang menyukai menurut Taurat Tuhan adalah orang yang berbahagia, hal ini selaras dengan Yeremia yang mengajarkan kepada umat untuk taat pada Taurat Tuhan, karena dengan taat itu mereka diselamatkan. Ketaatan Yesus melaksanakan karyaNya juga mendatangkan kemuliaan bagiNya.

Melalui bacaan ini kita diajak untuk berlaku taat, sebagai hormat dan bakti kita kepada Tuhan serta supaya oleh ketaatan itu kita berbahagia.

Marilah kita isi batin dan hati kita dengan Firman Tuhan supaya kita dapat berlaku taat. Amin.

Belajar Untuk Taat

Bacaan : Yeremia 31:31-34 | Mazmur 119:9-16 | Ibrani 5:5-10 | Yohanes 12:20-33  Dalam hidup sehari-hari, dalam relasi antar manusia ketaatan menjadi hal yang sangat penting. Hubungan orang tua dan anak ; Guru dan murid ; pimpinan dan staf, ketaatan juga sangat penting. Demikian halnya hubungan orang percaya dengan Tuhan. …

Bacaan : Bilangan 21:4-9  |  Mazmur 107:1-3  |  Efesus 2:1-10  |  Yohanes 3:14-21

 Dalam menghadapi dan menjalani hidup setiap orang dituntut atau diharapkan mampu memiliki kecerdasan, yaitu suatu kemampuan menangkap, memahami dan merespon/melakukan dengan baik terhadap sesuatu hal. Dalam hal ini termasuk masalah iman/keyakinan.

Dalam iman orang juga diharapkan mampu menangkap, memahami dan melakukan kehendak Allah dengan benar dalam hidup sehari-hari. Sebagai wujud refleksi imannya.

Beriman bukan sekedar beriman, beriman butuh kecerdasan untuk mampu menangkap, memahami dan melakukan apa yang diimani itu (tidak sekedar pokoke).

Melalui bacaan di atas kita diajak untuk memahami salah satu wujud/refleksi dari kecerdasan hidup beriman, yaitu “Kerendahan Hati”. Orang beriman yang cerdas tentunya tahu bahwa dirinya harus bersikap rendah hati (tidak sombong, tidak merasa dirinya paling pandai, paling rohani dsb).

Mengapa harus rendah hati?

Melalui bacaan di atas kita ditunjukkan tentang siapakah kita (orang percaya) ini. Kita adalah orang-orang yang hidup bukan karena kehebatan, kekuatan, kemampuan kita sendiri. Kita hidup, kita memiliki, kita dapat melakukan segala sesuatu adalah karena kasih setia dan anugerah Allah. Oleh karena itu tidak ada sesuatu hal yang patut kita sombongkan, tetapi justru membawa kita kepada ucapan syukur dan patuh kepada Allah.

Melalui bacaan tersebut kita diajak untuk berefleksi apakah kita adalah orang beriman yang cerdas, yang memiliki sikap rendah hati, hidup penuh syukur, taat kepada Allah, ataukahsebaliknya menjadi orang yang bebal dengan sikap yang sombong, kurang bersyukur bahkan sering memberontak terhadap Allah.

Kiranya kita adalah orang-orang beriman yang cerdas. Tuhan memberkati.

Kerendahan Hati Refleksi Dari Kecerdasan

Bacaan : Bilangan 21:4-9  |  Mazmur 107:1-3  |  Efesus 2:1-10  |  Yohanes 3:14-21  Dalam menghadapi dan menjalani hidup setiap orang dituntut atau …

Bacaan :  Keluaran 20:1-17  |  Mazmur 19  |  1 Korintus 1:18-25  |  Yohanes 2:13-22

 Rombak bait Allah ini, dalam tiga hari aku akan mendirikannya kembali (Yoh 2:19).

Membangun bait Allah dalam tiga hari apakah itu mungkin?Apa yang kelihatan tidak mungkin itulah yang dikatakan oleh Tuhan Yesus, Ia berkata kepada orang-orang Yahudi “Rombak bait Allah ini, dalam tiga hari aku akan mendirikannya kembali (Yoh 2:19).

Orang-orang Yahudi jadi terheran dan tidak bisa percaya. Mereka berpikir apa yang dikatakan oleh Tuhan Yesus adalah suatu hal yang mustahil. Mereka berkata kepadanya “Pembangunan bait Allah ini memakan waktu Empat puluh Enam Tahun, dan Engkau sanggup mendirikannya dalam tiga hari?

Sebenarnya yang dimaksud Yesus dengan “Bait Allah” Ialah tubuhnya sendiri (Yoh 2:21).

Perkataan Tuhan itu punya latar belakang peristiwa Tuhan Yesus melihat para pedagang berjualan dihalaman bait Allah. Pada waktu hari raya paskah orang yahudi sudah dekat, Yesus pergi ke Yerusalem. Disana Tuhan Yesus melihat para pedagang berjualan di halaman bait Allah. Mereka menjual sapi, domba, serta merpati untuk kurban, juga para penukar uang duduk menghadapi meja mereka.

Tuhan Yesus marah melihat keadaan itu, bait Allah yang seharusnya menjadi tempat ibadah kepada Allah, sudah berubah menjadi tempat orang berjualan. Yesus membuat cambuk dan tali dan mengusir mereka keluar, sapi dan domba dihalaunya ke luar. Uang para penukar dihamburkan keatas lantai dengan membalikkan meja mereka. Kemudian ia pergi kepada orang penjual merpati serta berkata meteka, bawa keluar semua ini! Janganlah Rumah Bapaku dijadikan Pasar.

Sesudah Yesus membersihkan bait Allah itu, orang-orang Yahudi menentang Yesus dan mendesak-Nya untuk memberikan suatu tanda untuk membuktikan kewenanganNya dalam berbuat demikian, kata mereka: Tanda apakah dapat engkau tunjukkan pada kami bahwa engkau berhak bertindak demikian ?

Jawab Yesus kepada mereka “Rombak bait Allah ini dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali”.

Tuhan Yesus telah bersungguh-sungguh memulihkan kehormatan bait Allah, dengan membersihkan bait Allah dari para Para pedagang dan penukar uang, Ia ingin kita menyadari bahwa kesucian bait Allah harus tetap dijaga.

Lebih dari itu, Ia ingin menyampaikan bahwa bait Allah adalah tempat dimana Allah menyatakan kasih dan karyaNya bagi umat, oleh karena itu Yesus menyejajarkan diriNya dengan bait Allah.

Dalam diri Yesus akan dinyatakan kasih dan karya Allah yang mengasihi, mengampuni dosa dan menyelamatkan umat.

Orang-orang percaya adalah juga Bait Allah yang harus mampu menjadi alat penyataan kasih dan keselamatan dari Allah. Amin.  Tuhan memberkati.

Yesus, Bait Allah dan Kita

Bacaan :  Keluaran 20:1-17  |  Mazmur 19  |  1 Korintus 1:18-25  |  Yohanes 2:13-22  Rombak bait Allah ini, dalam tiga hari aku …

Markus 1: 14-20  |  Yunus 3: 1-5, 10  |  1 Korintus 7: 29-31  |  Mazmur 62: 6-13

 Apa yang membuat anak-anak tetap bersemangat pergi sekolah? Ada yang melihat sekolah sebagai kewajiban, suka tidak-suka, berangkat. Ada juga anak-anak yang semangat sekolah karena mendapat uang saku, atau karena akan bertemu teman-temannya. Tetapi ada pula anak-anak yang penasaran dan suka dengan pelajaran, dan meyakini akan prestasi yang bisa diraihnya. Kewajiban, uang saku, dan akan bertemu teman-teman merupakan contoh alasan yang bisa mendorong anak-anak bersekolah. Pelajaran, pengetahuan, dan prestasi merupakan contoh tujuan yang bisa menarik anak-anak untuk bersekolah. Alasan dan tujuan lain bisa banyak lagi macamnya. Tetapi bila hanya bergerak dengan salah satu hal saja, kemauan sekolah jadi kurang kuat. Maka baik alasan maupun tujuan keduanya perlu ada bersama-sama menjadi kemauan kuat bagi anak-anak untuk bersekolah.

Panggilan kehidupan beriman orang Kristen adalah bersaksi tentang penyelamatan Allah dan memelihara keselamatan dari Allah (PPAGKJ hal. 31). Agar panggilan ini ditanggapi dengan tepat oleh orang Kristen, kita bangun alasan dan tujuan dalam merespon panggilan tersebut. Ketika Yunus mangkir dari panggilan Tuhan, Tuhan tetap “mengejar”nya dan menunjukkan kuasaNya. Yunus tadinya enggan mewartakan pertobatan ke Niniwe, selain karena dianggap kota orang berdosa yang mungkin akan keras kepala terhadap warta pertobatan, Yunus kemungkinan juga ingin supaya kota milik Asyur tersebut dihukum saja sekalian, tidak usah bertobat. Tetapi Yunus akhirnya harus mengakui kuasa Tuhan yang sudah ditunjukkanNya. Panggilan dan karya Tuhan yang jauh berkuasa menjadi alasan Yunus untuk memenuhi tugas panggilannya.

Panggilan keterlibatan yang diterima oleh murid-murid Tuhan Yesus yang pertama disampaikan Tuhan dengan janji bahwa mereka akan menjadi penjala manusia. Para murid kemudian meninggalkan kemapanan hidupnya sebagai nelayan dan mengikut Tuhan. Melihat situasi kala itu, kuat kemungkinan para murid awalnya belum memahami maksud panggilan Sang Guru, tetapi mereka yakin dan percaya akan janjiNya sehingga mereka mengikutNya. Mereka meyakini bahwa mengikuti Tuhan Yesus merupakan pilihan tepat dengan harapan tentang sesuatu yang indah. Akan ada sesuatu yang mereka terima kelak. Hal ini menjadi tujuan mereka untuk percaya dan mengikutNya.

Alasan dan tujuan merespon keterlibatan kita dalam karya agung Allah bisa kita ungkapkan dalam hal lain selain dari pengalaman Yunus dan para murid yang pertama. Hal apa saja alasan dan tujuan iman kita? Bisa kita sebutkan lagi. Lalu bagaimana sikap dan hati kita menjalani hal tersebut? Selamat bergerak dalam alasan dan tujuan iman dengan tetap setia kepada Tuhan Allah.

Terlibat Dalam Karya Agung Allah

Markus 1: 14-20  |  Yunus 3: 1-5, 10  |  1 Korintus 7: 29-31  |  Mazmur 62: 6-13  Apa yang membuat anak-anak tetap …

1 Samuel 3: 1-20 | Mazmur 139:1-6, 13-18 | 1 Korintus 6:12-20 | Yohanes 1:43-51

  

Mendengar kata “Bekerja Bagi Allah” banyak orang memaknai sebagai kegiatan yang berkenaan dengan aktifitas bergereja.

Jaman dahulu memang demikian, misalnya para biarawan dan biarawati mereka adalah orang-orang yang bekerja bagi Allah.

Orang-orang yang bekerja bagi Allah (pelayanan di gereja) dipandang sebagai kegiatan rohani yang lebih baik daripada pekerjaan lain, misalnya petani, tukang, atau pegawai. Karena itu mereka dipandang sebagai orang-orang saleh yang memiliki derajat yang lebih baik daripada petani, tukang, pegawai dan sebagainya.

 

Dulu, kehidupan Kristen yang dianggap sempurna adalah untuk mereka yang bekerja di bidang rohani, dan tidak ternoda oleh pekerjaan jasmani.

Itu dulu, sebelum para reformator membawa obor pencerahan. Setelah Luther dan Calvin angkat suara maka beda cerita. Luther menegaskan, Allah memanggil seseorang untuk melayaniNya dengan cara-cara tertentu di dunia. Panggilan (beruf, Jerman) tidak selalu harus menjadi ‘rohaniwan atau rohaniwati’. Calvin menandaskan, kemampuan dan keterampilan (talenta) adalah pemberian Allah kepada semua orang, supaya mereka dapat berfungsi lebih efektif di dunia. Singkatnya, para reformator menyatakan tidak ada perbedaan derajat kerja antara yang rohani atau jasmani, gerejawi atau duniawi.

 

Pekerjaan di rumah, dapur, gudang, bengkel, ladang dan sebagainya, dapat menjadi pujian bagiNya ketika bertitik tolak, terarah dan tertuju bagi kemuliaan Allah.

Ketika pekerjaan itu dilakukan dengan tujuan bagi kemuliaan Allah maka itu berarti “Bekerja Bagi Allah”. Dengan menghayati itu maka segala pekerjaan yang kita lakukan, adalah “Bekerja Bagi Allah”.

 

Selamat Bekerja Bagi Allah…

Bekerja Bagi Allah

1 Samuel 3: 1-20 | Mazmur 139:1-6, 13-18 | 1 Korintus 6:12-20 | Yohanes 1:43-51    Mendengar kata “Bekerja Bagi Allah” banyak …

Yesus Dibaptis Agar Kita DibaptisNya

Bacaan :  Markus 1 :  4 – 11 Injil Markus mengawali kesaksiannya dengan pemberitaan tentang kedatangan Yohanes Pembaptis dan baptisan Tuhan Yesus. …

kasih hidup copy

Menghidupi Kasih

Matius 22 : 34-46,      Didalam 1 Tesalonika 2:1-8 bercerita tentang bagaimana kasih Allah terhadap jemaat di Tesalonika melalui Rasul Paulus …

Filipi 4 : 1–9

 Jemaat Tuhan yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus, mengapa kita tak bisa  untuk bersukacita dalam segala hal atau segala keadaan dan tindakan nyata? Mengapa kita juga sulit dan tak mudah mengucap syukur dalam segala keadaan? Mungkin jawabnya adalah Karena kita memberi suatu batasan tentang arti sukacita. Banyak diantara kita salah mengartikan arti sukacita. Kita menganggap sukacita itu adalah saat menerima keadaan luar biasa. Katakanlah kita menang undian mobil mewah, mendapat momongan yang lama kita nantikan, mendapat promosi jabatan yang hebat, anak kita menjadi juara olahraga tingkat provinsi, dll. Kalau kita tidak mengalami hal-hal yang hebat tadi, kita merasa biasa-biasa aja. Sukacita yang sejati sesungguhnya muncul dari kepuasan batin seseorang walaupun secara fisik atau kenyataan masih dalam keadaan yang kurang baik.

Paulus dalam beberapa kali dan kesempatan mengatakan bersukacitalah senantiasa seperti pada Filipi 4 : 4, dan pada 1 Tes 5 : 16,  walaupun pada saat mengatakan itu Paulus juga masih dalam kesulitan. Namun kalau kita baca seterusnya pada ayat-ayat selanjutnya ternyata Paulus mengalami kepuasan batin karena jemaat tetap bertumbuh dan Paulus tetap berpegang pada Janji Tuhan, Paulus dapat mengambil suatu hikmah yang luar biasa dalam setiap kondisi atau keadaan. Contoh lain Ayub dikatakan bersukacita walaupun menjadi orang kere dan sakit kusta dalam sekejab karena puas secara batin. Yohanes pembaptis dengan sukacita memberitakan Injil walaupun hidup sangat sederhana, karena sadar dirinya adalah seseorang yang dipilih Allah menjadi pembuka jalan bagi Yesus.

Memang seorang Pauluspun tidak sertamerta dapat selalu bersukacita dalam segala hal atau tidak sertamerta dapat bersukacita senantiasa dengan begitu saja, seorang Pauluspun perlu belajar untuk dapat menerima keadaan hidup sehingga Paulus dapat berkata “Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan” karena Paulus juga telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan dan akhirnya Paulus selalu bersukacita senantiasa dan berkata segala perkara dapat kutanggung didalam Dia….

Lalu bagaimana cara kita tetap dapat bersukacita walaupun saat ini sedang mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan? Maka kita juga perlu belajar seperti Paulus, Jangan fokus pada hal-hal negatif tetapi belajarlah mengucap syukur untuk keajaiban-keajaiban kecil disekitar kita. Bersukacitalah hari ini kita bisa menjadi Kristen, bersukacitalah hari ini kita bisa ke gereja dengan bebas, bersukacitalah Tuhan terus membentuk hidup kita melalui berbagai masalah namun jangan lupa agar kita tetap mempunyai kepuasan batin maka kita harus tetap bersandar pada janji Tuhan, sehingga suatu saat kitapun dapat senantiasa bersuka cita dan berkata segala perkara dapat kutanggung didalam Dia. Tuhan Memberkati, Amin.

 

Belajar Bersukacita

Filipi 4 : 1–9  Jemaat Tuhan yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus, mengapa kita tak bisa  untuk bersukacita dalam segala hal atau …

Matius 21 : 33-46

 Peribahasa mengatakan “kuman di seberang lautan tampak, tetapi gajah di pelupuk mata tiada tampak” yang artinya kesalahan kecil orang lain kelihatan/dipersoalkan, tetapi kesalahan sendiri yang lebih besar tidak disadari/tidak dilihat.

Bacaan kita menceritakan bahwa: Hal kerajaan Allah, seumpama tuan tanah yang membuka kebun anggurnya dan menanam pagar sekelilingnya. Ia menggali lubang tempat memeras anggur dan mendirikan menara juga didalam kebun anggur itu, dan menyewakan kebun anggur itu kepada penggarap-penggarap.

Ketika musim tuai akan tiba, ia menyuruh hamba-hambanya untuk menerima hasilnya, tetapi hamba-hamba itu ditangkap, dilempari batu dan dibunuhnya (ayat 36). Demikian pula ketika tuan itu mengutus anaknya sebagai ahli waris juga ditangkap, dilemparkannya keluar dan dibunuhnya.

Kisah ini merupakan bagian dari perjalanan Yesus saat memberitakan Injil kerajaan sorga dalam perjumpaan dan percakapannya dengan orang-orang Yahudi (orang Farisi & ahli-ahli Taurat).

Melalui perumpamaan itu Yesus hendak membangun kesadaran orang-orang Yahudi (khususnya orang Farisi dan ahli-ahli Taurat) yang selalu merasa dirinya lebih baik dan benar. Mereka merasa bahwa dirinyalah yang berhak atas kerajaan sorga. Dengan perumpamaan tersebut diharapkan orang-orang Yahudi menyadari akan keberadaannya yang salah dan akhirnya mau menyadari dan bertobat.

Orang-orang Kristen saat ini (termasuk kita) seringkali merasa dirinya paling baik, paling benar dan paling yakin akan mewarisi kerajaan sorga. Karenanya sering meremehkan dan kurang menghargai orang lain

Melalui perumpamaan tersebut juga mengajak kita semua untuk menyadari tentang diri kita yang penuh kesalahan dan tidak selalu benar, sehingga kita tidak menjadi sombong serta mau menghargai orang lain.

Dengan kesadaran dan kesediaan berubah menjadi pribadi rendah hati/tidak sombong, menghargai orang lain, menjadi bagian dalam upaya menghidupi kasih.

Minggu ini adalah minggu kedua bulan keluarga, baik kita sebagai anggota keluarga (sebagai ayah, ibu atau anak) anggota gereja, dan juga sebagai anggota masyarakat, marilah memohon tuntunan Roh Kudus untuk dapat menyadari diri kita (yang tidak lepas dari kesalahan dan kesombongan) supaya mampu berubah dalam upaya menghidupi kasih.

Tuhan Yesus memberkati. Amin

Sadar Diri

Matius 21 : 33-46  Peribahasa mengatakan “kuman di seberang lautan tampak, tetapi gajah di pelupuk mata tiada tampak” yang artinya kesalahan kecil …