Currently browsing

Page 2

menentukan pilihan

Menentukan Pilihan Hidup

Bacaan : Yeremia 17 : 5-10  Holman Hunt  seorang pelukis baru saja menyelesaikan lukisannya dengan gambar Yesus berdiri mengetuk pintu. Dia memanggil teman-temannya untuk mencermati dan mengomentari lukisannya untuk memastikan apakah ada kekurangan pada lukisan tersebut. Semua temannya kagum dan menilai tak ada kekurangan dalam lukisan tersebut. Namun ada seorang …

kasih Allah bagi semua orang

Siap Dipanggil Untuk Berkarya

Bacaan : Lukas 5: 1-11; 1 Kor. 15: 1-11  Kehidupan orang beriman sering dikaitkan dengan kegiatan pergi ke gereja setiap hari minggu, …

web 3 feb 2019y

Mengejar Kasih

Bacaan : Lukas 4 : 21-30 Banyak kejahatan terjadi karena akibat dari egoisme, iri hati, gengsi, serakah dll. Di hati mereka kasih sudah …

Bacaan : Ulangan 5 : 12-15

 

Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu

dan dengan segenap kekuatanmu (Ulangan 6:5)

 

Firman Tuhan menyatakan bahwa kita harus mengasihi Tuhan Allah kita, sedangkan kita dikatakan mengasihi Tuhan bila mana kita menuruti segala perintah Allah (Yohanes 14:15).

Dengan demikian mengkuduskan dan merayakan hari Sabat seperti tertulis dalam kitab Ulangan 5 ayat 12 dan 15 harus kita laksanakan karena hal itu merupakan perintah Tuhan.

Tuhan memerintahkan sesuatu kepada umat-Nya bukan tanpa alasan, tetapi penuh dengan hikmat dan untuk kebaikan umat itu sendiri.

Kuduskanlah hari Sabat (Ulangan 5:12) perintah ini mengandung maksud supaya kita bisa melihat, merasakan dan menghayati serta merenungkan apa-apa yang telah kita perbuat serta menikmati berkat Tuhan selama enam hari yang sudah berlalu. Hal ini sudah seharusnya kita wujudkan dalam bentuk rasa terimakasih dan ucapan syukur kepada Tuhan dengan mengkuduskan hari Sabat yang dikemas dalam bentuk ibadah syukur pada hari Sabat.

Bahkan menurut Hukum Taurat, hari Sabat harus betul-betul khusus untuk Tuhan. Pendek kata kita tidak boleh melakukan pekerjaan apapun (Ulangan 5:14). Sebagai ilustrasi, orang mencari kayu api (bakar) dihari Sabat harus dihukum mati (Bilangan 15:32-36). Lebih ekstrem lagi adalah tidak boleh memasang api dimanapun dalam tempat kediaman pada hari Sabat (Keluaran 35:3), artinya memasakpun tidak boleh. Hanya satu yang boleh kita lakukan pada hari Sabat yaitu perbuatan baik (Markus 3 :4).

Hari Sabat tidak sekedar dikuduskan saja, tetapi harus dirayakan (Ulangan 5:15). Merayakan sesuatu tentunya dengan sukacita tidak dengan dukacita, demikian hari Sabat harus kita rayakan dengan sukacita penuh. Karena selama enam hari kita diberkati dengan limpah, diijinkan untuk menikmati semua kejadian dan disertaiNya dalam setiap langkah kita. Jadi, wajarlah kalau kita merayakan hari Sabat dengan sukacita bahkan pemazmur berkata :

Bersorak sorailah bagi Allah kekuatan kita, bersorak sorailah bagi Allah Yakub.

Angkatlah lagu, bunyikanlah rebana, kecapi merdu, diiringi gambus. Tiuplah sangkakala …. (Mazmur 81:2-4).

“RAYAKANLAH SABAT DENGAN SUKACITA”

Merayakan Sabat Dengan Sukacita

Bacaan : Ulangan 5 : 12-15   Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu (Ulangan 6:5) …

Bacaan : Yesaya 6:1-8  ;  Mazmur 29  ;  Roma 8:12-17  ;  Yohanes 3:1-17

Dari buku ‘Masa Pentakosta 2018’, diungkapkan bahwa akhir-akhir ini gereja nampak kehilangan hakekat kehadirannya, yaitu menjadi pewarta kasih Allah. Hal ini dikarenakan gereja terlalu sibuk dengan dirinya sendiri (eksklusif).

Berdasarkan bacaan dimaksud, kita dapat menangkap beberapa hal yang berkaitan dengan tugas panggilan :

  1. Dari Mazmur 29

Bahwa Tuhan dengan segala kebesaranNya akan memberi kekuatan kepada umatNya

 

  1. Dari Roma 8 : 12-17

Bahwa orang percaya telah menerima roh yang menjadikannya sebagai anak Allah, bukan roh perbudakan yang membuatnya menjadi penakut.

 

  1. Dari Yohanes 3 : 1-7

Bahwa setiap orang percaya akan mendapatkan kehidupan kekal.

 

  1. Dari Yesaya 6 : 1-8

Bahwa berdasarkan pemahaman akan firman Tuhan (antara lain no. 1, 2,  dan 3 di atas) dengan tegas Yesaya menjawab panggilan Tuhan, “Ini aku, utuslah aku”.

 

Kiranya sedikit renungan ini, kita khususnya sebagai suatu gereja (lembaga) dapat merenungkan kembali apakah kita selama ini sudah sesuai dengan tugas panggilan gereja di dunia.

Panggilan Untuk Membebaskan Sesama

Bacaan : Yesaya 6:1-8  ;  Mazmur 29  ;  Roma 8:12-17  ;  Yohanes 3:1-17 Dari buku ‘Masa Pentakosta 2018’, diungkapkan bahwa akhir-akhir ini …

web 6 mei

Allah Tidak Pernah Salah Memilih

Bacaan : Yohanes 15 : 9-17,   Nas: ayat 16-17   Setiap manusia yang telah dipilih oleh Tuhan Yesus diminta agar berbuah. Buah itu …

Bacaan : Yesaya 50:4-7; Mazmur 118:1-2,19-29; Filipi 2: 6-11; Yohanes 12: 12-16

 

Hidup memang tidak lepas dari berbagai tekanan. Lebih-lebih, hidup di alam modern ini yang menyuguhkan beragam risiko. Seorang sosiolog Ulrich Beck menamai jaman kontemporer ini dengan masyarakat risiko (risk society). Alam modern menyuguhkan perubahan cepat dan tak jarang mengagetkan. Tekanan itu sesungguhnya membentuk watak, karakter, dan sekaligus menentukan bagaimana orang bereaksi di kemudian.

Empat tipe manusia dalam menghadapi tekanan hidup: (1) Tipe Kayu Rapuh: Sedikit tekanan saja membuat manusia ini patah arang. Orang ini gampang sekali mengeluh pada saat kesulitan terjadi; (2) Tipe Lempeng Besi: Orang tipe ini biasanya mampu bertahan dalam tekanan pada awalnya. Namun seperti layaknya besi, ketika situasi menekan itu semakin besar dan kompleks, ia mulai bengkok dan tidak stabil. Orang-orang tipe ini mampu menghadapi tekanan, tetapi tidak dalam kondisi berlarut-larut; (3) Tipe kapas: Tipe ini cukup lentur dalam menghadapi tekanan. Saat tekanan tiba, orang mampu bersikap fleksibel. Cobalah kita menekan sebongkah kapas. Ia akan mengikuti tekanan yang terjadi. Ia mampu menyesuaikan saat terjadi tekanan; (4) Tipe Bola Pingpong: Inilah tipe yang ideal dan terhebat. Jangan sekali-kali menyuguhkan tekanan pada orang-orang ini karena tekanan justru akan membuat mereka bekerja lebih giat, lebih termotivasi, dan lebih kreatif. Coba perhatikan bola pingpong. Saat ditekan, justru ia memantul ke atas dengan lebih dahsyat.

Bagaimana dengan kita sebagai umat percaya dalam menghadapi kenyataan hidup?

Tidak semua orang berani menghadapi kenyataan hidup. Ada yang menghindar, ada yang menolak, ada yang menerima dan menghadapi kenyataan hidup dengan berani. Semua itu bergantung pada keyakinan dan prinsip hidup yang dimiliki orang tersebut.

Bacaan Yesaya 50:4-7, Filipi 2:6-11, Yohanes 12:12-16 sama-sama berbicara tentang keberanian menghadapi kenyataan hidup. Hal tersebut ditunjukkan baik oleh Hamba Tuhan dalam Kitab Yesaya maupun oleh Yesus Kristus sendiri. Keberanian tersebut ada karena:

  1. Sadar akan panggilan hidup yang harus dijalani dengan bertanggung jawab dan konsisten menjalaninya apapun risiko yang harus dihadapi. Dengan demikian, keberanian itu bukan asal berani. Tetapi keberanian karena tujuan yang jelas. Segala risiko dan konsekuensi telah diperhitungkan dengan matang sehingga keberanian tersebut betul-betul didasari kesiapan yang matang.
  2. Yakin bahwa Tuhan pasti menolong setiap orang yang melakukan kebenaran. Pujian bahwa Tuhan baik dan senantiasa membela orang benar dikumandangkan juga oleh Sang Pemazmur dalam Maz. 118:1-2;19-29. Pemazmur justru merasakan perbuatan Tuhan yang ajaib ketika manusia konsisten melakukan kebenaran.
  3. Hamba Tuhan tersebut berelasi intim dengan Tuhan. Dalam relasinya tersebut, ia terus menghayati dan merefleksikan keberadaan diri dan karya layannya.Bacaan Filipi 2:6-11 menceritakan bagaimana Allah memuliakan Yesus Kristus yang telah dengan tuntas melaksanakan karya-Nya. Ini menunjukkan bahwa perjuangan hidup yang penuh dengan keberanian di dalam Tuhan akan membuahkan sesuatu yang baik dan mulia.

    “Semua kesulitan, sesungguhnya merupakan kesempatan bagi jiwa kita untuk tumbuh”.

Hadapi Kenyataan Hidup Dengan Berani

Bacaan : Yesaya 50:4-7; Mazmur 118:1-2,19-29; Filipi 2: 6-11; Yohanes 12: 12-16   Hidup memang tidak lepas dari berbagai tekanan. Lebih-lebih, hidup …

Bacaan : Yeremia 31:31-34 | Mazmur 119:9-16 | Ibrani 5:5-10 | Yohanes 12:20-33

 Dalam hidup sehari-hari, dalam relasi antar manusia ketaatan menjadi hal yang sangat penting. Hubungan orang tua dan anak ; Guru dan murid ; pimpinan dan staf, ketaatan juga sangat penting. Demikian halnya hubungan orang percaya dengan Tuhan.

Semua orang sadar, tahu bahwa berlaku taat itu penting dan harus, namun tidak mudah orang mau dan mampu untuk berlaku taat, lebih-lebih taat kepada Tuhan. Itulah sebabnya berlaku taat adalah adalah suatu proses yang senantiasa harus dipelajari  dan diupayakan.

Melalui bangsa Israel, Pemazmur dan juga Yesus, kita ditunjukkan bahwa berlaku taat/setia itu tidak mudah namun perlu bahkan harus. Kepada bangsa Israel (melalui nabi Yeremia) Allah mengajar bagaimana bangsa Israel harus belajar taat, yaitu dengan cara: “Aku akan menaruh TauratKu kedalam batin dan menuliskannya dalam hati mereka” (Yer. 31:33).

Bangsa Israel akan taat kepada Allah apabila Taurat/Firman Allah ada dalam batin dan hati mereka. Mengapa dalam hati? Karena hati adalah sumber dari segala tindakan manusia. Kalau hati manusia dipenuhi firman Allah maka tindakan manusia menjadi pancaran dari firman Allah.

Belajar dan berlaku taat itu penting. Mengapa?

  1. Taat sebagai wujud hormat dan bakti kita kepada Allah
  2. Taat mendatangkan kebahagiaan dan keselamatan

Menurut pemazmur orang yang menyukai menurut Taurat Tuhan adalah orang yang berbahagia, hal ini selaras dengan Yeremia yang mengajarkan kepada umat untuk taat pada Taurat Tuhan, karena dengan taat itu mereka diselamatkan. Ketaatan Yesus melaksanakan karyaNya juga mendatangkan kemuliaan bagiNya.

Melalui bacaan ini kita diajak untuk berlaku taat, sebagai hormat dan bakti kita kepada Tuhan serta supaya oleh ketaatan itu kita berbahagia.

Marilah kita isi batin dan hati kita dengan Firman Tuhan supaya kita dapat berlaku taat. Amin.

Belajar Untuk Taat

Bacaan : Yeremia 31:31-34 | Mazmur 119:9-16 | Ibrani 5:5-10 | Yohanes 12:20-33  Dalam hidup sehari-hari, dalam relasi antar manusia ketaatan menjadi …