IBADAH SEBAGAI TANDA KESELAMATAN ALLAH

Bacaan: Roma 14: 1–12

Bulan September sebagai bulan Katekese Liturgi mengajak kepada kita menghayati ibadah dengan kekayaan maknanya. Kekayaan makna ibadah haruslah menghantar kita juga kepada kekayaan pengalaman spiritual dan keseharian kita dalam menghayati hidup yang beribadah. Yang jelas, kita beribadah karena kita beriman kepada Allah Tritunggal yang menyatakan keselamatan di dalam dan melalui Tuhan Yesus Kristus. Menghayati tema di atas, secara singkat meskipun bukan satu-satunya, ibadah adalah “hidup untuk Tuhan” (lihat ayat 8). Kita hidup karena keselamatan dari Allah yang telah lebih dahulu diberikanNya kepada kita. Sekarang kita diingatkan kembali untuk mewujudkan hidup yang menunjukkan bahwa kita sudah diselamatkan. Ada beberapa poin yang dapat kita hayati.

Pertama, mengampuni sesama (Matius 18:21-35). Pengampunan merupakan suatu kondisi ketika suatu pihak melepaskan/membebaskan pihak lain dari hal-hal yang harus ditanggungnya karena perbuatannya. Mengampuni sesama berarti membuat sesama kita tidak menanggung apapun yang telah diperbuatnya kepada kita. Secara utuhnya, kita pun tidak merasa bahwa orang lain memiliki tanggungan apapun kepada kita. Kita telah diampuni Allah meskipun telah berdosa di hadapanNya. KasihNya membuat kita bersih dan kudus dari dosa. Dalam keselamatan dan pengampunan itu, kita mewujudkan pengampunan kepada sesama.

Kedua, tidak menghakimi, melainkan bertanggung jawab langsung kepada Allah. Ini adalah spiritualitas yang paling penting sebagai bangsa dan masyarakat yang religius. Seringkali karena Allah dianggap tidak terlihat maka orang-orang merasa tidak perlu bertanggung jawab kepadaNya meskipun mereka memeluk suatu agama atau keyakinan. Kemunafikan ini harus dilawan dengan sikap hati yang tulus dan sungguh-sungguh percaya bahwa Allah Maha-mengetahui, sehingga semua kehidupan manusia dipertanggungjawabkan kepadaNya.

Masih banyak hal yang dapat kita wujudkan sebagai ibadah yang adalah hidup untuk Tuhan. Mari berbagi kekayaan makna ibadah, sekaligus berbagi kekayaan pengalaman spiritual bersama dengan saudara kita seiman dan orang-orang di sekitar kita. Tujuannya agar kita semakin belajar dan semakin takut akan Allah yang kita sembah. Tuhan memberkati. Amin.

%d blogger menyukai ini: