Spiritualitas Pertobatan; Menuju Kesalehan Sosial

Bacaan:  Yesaya 1: 10-18 | Lukas 19: 1-10

 

Banyak orang bertanya, “mengapa seseorang bisa beragama dan taat pada peraturan agamanya, sementara pada saat yang sama yang bersangkutan tidak memiliki kepedulian terhadap sesama manusia? Mengapa memeluk agama bisa hanya berorientasi pada kesalehan individual dan tidak disertai dengan kesalehan sosial?” Alih-alih membawa kesejahteraan dan kebaikan bagi masyarakat banyak, justru tindakan orang-orang yang mengaku beragama menimbulkan kerugian sosial, konflik sosial, bahkan luka dan trauma sosial.

Hasil pemikiran era modern banyak menekankan individualisme yang membawa penolakan terhadap realitas sosial. Sejatinya keberadaan manusia ditentukan dalam hubungannya dengan orang lain, organisasi/kelompok di sekitarnya, alam, dan masa lalunya. Tekanan pada kesalehan pribadi ditambah individualisme modern semakin menantang keberagaman yang berpihak kepada sesama.

Bangsa Israel ditegur keras oleh Allah melalui nabiNya bahwa persembahan dan ibadah mereka tidak berarti bagi Allah bila mereka masih memelihara kejahatan di antara mereka. Tidak hanya menghentikan kejahatan, Allah juga ingin agar mereka aktif peduli dan menolong sesama mereka yang dalam keadaan paling lemah sekalipun. Sebagai orang percaya, kita mengaku dan menghayati Yesus Kristus yang hadir di tengah-tengah hidup dan keluarga kita. Kehadiran Yesus dalam rumah Zakheus mengubah keadaan. Zakheus berjanji untuk mengembalikan kerugian yang diakibatkannya serta membantu orang-orang miskin dengan kekayaannya. Pertobatan terjadi, dan itu dijamin Allah dalam Yesaya 1: 18. Pertobatan ini bukan berbentuk kesalehan pribadi, melainkan kesalehan sosial, ketika syukur dan komitmen pertobatan diwujudkan dalam tindakan bagi sesama.

Pada masa kini, komitmen sosial apa yang dapat kita lakukan sebagai wujud spiritualitas kita? Tentu saja kita memelihara kesalehan pribadi, namun jangan sampai kita mengabaikan keberadaan sesama. Keseimbangan hidup ada pada pemeliharaan diri dan juga relasi yang baik dengan keluarga dan sesama kita.

%d bloggers like this: