Nilai Kemanusiaan di balik Kekayaan

Bacaan :  Amos 6:1-7  |  1 Timotius 6:6-19  |  Lukas 16:19-31

 

 Dalam Alkitab ada lebih dari 2.000 ayat yang berhubungan dengan uang dan harta benda (prakata halaman 5 Sajian Inti dalam Alkitab edisi Finansial, LAI 2015), hal ini menunjukkan bahwa Allah sebenarnya sangat peduli kepada kita manusia agar menjadikan Alkitab sebagai rujukan dalam mengelola uang dan harta benda. Kita sering menganggap Alkitab hanya sebagai buku yang berhubungan dengan hal-hal rohani, padahal Allah banyak mengingatkan kita agar mengelola keuangan  sesuai dengan terang Firman Tuhan.

Inti bacaan Amos 6:1-7, Amos tampil memberitakan tentang hukuman dan keruntuhan bangsa Israel. Allah membenci perayaan keagamaan di Betel. Kekayaan yang mereka dapat merupakan buah dari penindasan terhadap kalangan miskin dan tertindas. Semua perayaan keagamaan merupakan kemunafikan. Nyanyian pujian hanyalah bagi diri sendiri, bukan untuk Allah. Allah membenci semua hidup keberagamaan yang bertolak belakang dengan sikap terhadap sesama.

Rasul Paulus mengingatkan kepada Timotius yang masih muda (1 Timotius 6:6-19) agar belajar untuk mencukupkan diri dengan hal-hal yang sifatnya “kebutuhan”, bukan “keinginan”. Asal ada makanan dan pakaian cukuplah (ayat 8), ajaran ini mengingatkan kepada Timotius dan kita semua agar belajar mencukupkan diri (tidak tamak), karena mereka yang ingin kaya sering terjatuh dalam pencobaan, jerat dan berbagai nafsu yang hampa dan mencelakakan, yang akhirnya menenggelamkan manusia dalam keruntuhan dan kebinasaan (ayat 9).

Akar segala kejahatan adalah cinta uang, dan karena memburu uang beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka (ayat 10).

Pada pesan penutupnya, Rasul Paulus mengingatkan agar Timotius dan tentunya berlaku juga bagi kita semua agar menjauhi ketamakan, kita perlu lebih mengejar kepada keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan (ayat 11).

Kekayaan perlu disikapi sebagai sebuah titipan dari Tuhan yang perlu kita kelola dalam terang firman Tuhan. Melalui kekayaan yang ada pada kita, kita perlu peduli kepada sesama yang membutuhkan.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tercatat jumlah penduduk Indonesia dalam kategori di bawah garis kemiskinan pada Maret 2019 berjumlah 25,1 juta. (sumber Liputan6.com 15 Juli 2019). Marilah kita bertanya dalam diri kita masing-masing, sudahkah kita dan Gereja kita berperan/berpartisipasi  dalam upaya membantu pengentasan kemiskinan tersebut? Upaya apa yang bisa kita lakukan sebagai murid Yesus?

Tuhan memberkati. Amin.

%d bloggers like this: