Saling Merendahkan Diri

Matius 21 : 23-32

 Kelekatan pada kekuasaan sering mendorong manusia untuk berusaha mempertahankan jabatannya dengan berbagai cara, hal ini dapat terjadi di pemerintahan, masyarakat, bahkan di lembaga agama sekalipun.

Para pemimpin agama Yahudi di zaman Yesus merasa terganggu dengan kehadiran Yohanes Pembaptis dan Yesus yang merebut hati  umat. Para pemimpin agama tersebut merasa takut akan kehilangan wibawa, pengaruh dan popularitas, mereka takut akan kehilangan kuasa.

Bagi para pemimpin agama Yahudi, Yohanes Pembaptis adalah kompetitor dalam meraup kuasa atas umat. Mereka juga gerah terhadap Yesus yang makin termasyur di kalangan umat. Berbagai mujizat yang dilakukan Yesus dianggap mereka sebagai pengganggu utama bagi kelanggengan kekuasaan para pemimpin agama Yahudi.

Pertanyaan para pemimpin agama Yahudi tentang kuasa Yesus sesungguhnya merupakan ekspresi kegelisahan takut kehilangan kuasa. Pertanyaan tersebut merupakan jebakan dalam mencari celah untuk menjatuhkan pamor Yesus. Menariknya, Yesus dengan cerdas membalikkan dengan pertanyaan tentang asal-muasal baptisan Yohanes Pembaptis: dari sorga atau manusia? Mereka mengalami dilema untuk menjawab dan tidak berhasil memperdaya Yesus (ayat 25–27). Sebaliknya mereka merasa disindir Yesus karena keangkuhan mereka untuk mengakui Yohanes Pembaptis sebagai utusan Ilahi.

Teguran Yesus makin memojokkan para pemimpin Yahudi melalui perumpamaan-Nya tentang dua orang anak yang diutus ayahnya. Yesus menganalogikan para pemimpin umat sebagai anak yang kelihatan patuh namun mereka tidak melakukan peritah ayahnya.

Ini menggambarkan kenyataan bahwa mereka tidak mempercayai Yohanes Pembaptis sebagai utusan Ilahi. Mereka tidak rendah hati untuk turut serta dalam pertobatan melalui pembaptisan Yohanes. Mereka percaya diri  dengan mengandalkan keselamatan dari darah keturunan Abraham secara fisik.

Sebaliknya Yesus menganalogikan orang-orang yang dipandang berdosa seperti pemungut cukai dan perempuan sundal sebagai anak yang semula tidak patuh terhadap perintah  namun akhirnya menyesal dan melakukan perintah ayahnya. Ini menggambarkan kenyataan bahwa orang-orang tersebut tersentuh hatinya terhadap undangan pertobatan Yohanes Pembaptis, mempercayainya dan bersedia turut serta dalam pertobatan.

Menjadi jelas bahwa kekuasaan telah membutakan mata batin para pemimpin agama Yahudi terhadap undangan Ilahi. Padahal seharusnya mereka menjadi pelopor umat untuk merendahkan diri dan hati untuk mengikuti undangan pertobatan ilahi melalui Yohanes dan Yesus.

Melalui perayaan Hari Perjamuan Kudus se-Dunia dan Hari Pekabaran Injil Indonesia ini, marilah kita menghayati spirit pengosongan diri Yesus Kristus, merendahkan diri sepenuhnya dihadapan-Nya. Segala keangkuhan dan kesombongan kiranya luruh di depan salib Yesus.

Marilah kita memasuki Bulan Keluarga 2017 ini dengan menyadari sungguh bahwa awal dari keindahan relasi cinta kasih dalam keluarga adalah kesediaan untuk mengosongkan diri sebagaimana Kristus nyatakan di kayu salib: merelakan kuasa, menghindari egoisme, mengembangkan kerendahan hati dan menumbuhkan perhatian terhadap sesama. Tuhan memberkati.

%d bloggers like this: