Jadilah “Tanah yang Baik” Menyambut Taburan Sabda!

Matius 13 : 1-9, 18-23

 Secara umum kita pasti sudah mengetahui bahwa tempat terbaik untuk menanam benih itu adalah di tanah yang baik dan subur bukan di jalan, bebatuan maupun di semak duri. Seperti perumpamaan Tuhan Yesus tentang seorang penabur, bahwa Firman Allah itu diumpamakan seperti benih yang membutuhkan tanah yang baik dalam perkembangannya. Dengan harapan bahwa benih itu nantinya akan bertumbuh dengan baik dan menghasilkan buah yang banyak.

Hal ini menjadi perenungan bagi kita, ketika Firman Tuhan diberitakan haruslah kita bertanya pada diri, dimana posisi kita dalam mendengar Firman Tuhan? Di pinggir jalan, di bebatuan, di semak duri atau di tanah yang baik? Sebab Firman Tuhan hanya akan tumbuh dan berbuah di tanah yang baik. Seperti halnya tanah yang baik yang sudah siap menerima benih untuk di tanamkan padanya, demikianlah kita dalam mendengar Firman Tuhan bahwa dari dalam diri kita ada kesiapan menerima pertumbuhan Firman Tuhan dan yang akan menghasilkan buah.

 

Bagaimana supaya kita menjadi tanah yang subur? Ya seperti tanah pada umumnya; tanah yang subur adalah:

  1. Bersih dari kotoran-kotoran, bibit penyakit, bebatuan, semak-semak. Artinya hati dan hidup kita:

      –  Kudus / hidup dalam kekudusan,

      –  Bersih dari segala nafsu,

      – Memiliki hati yang bersih seperti seorang anak kecil.

  1. Mengandung air dan unsur hara yang cukup untuk kebutuhan hidup tanaman. Supaya memiliki kandungan-kandungan seperti itu, maka tanah perlu perlakuan, seperti disiram, dipupuk, dicangkul. Siapa yang melakukan, ya pemilik tanah itu. Siapa pemilik tanah itu, Ia adalah Tuhan sendiri. Oleh sebab itu sebagai tanah kita harus mau dicangkul disiram dan dipupuk oleh Tuhan. Bagaimana ia memupuk kita, yaitu melalui Roh Kudus di dalam hati nurani. Artinya kita mau menerima Roh Kudus dan tuntunanNya

 

”Kalau saat ini hati dan hidup kita masih seperti jalan tanah, masih seperti tanah yang berbatu, seperti tanah yang dipenuhi semak, mari kita berjuang, mengolah, dan mengubahnya untuk menjadi tanah yang baik. Kita bersihkan hati dan hidup kita dari segala nafsu dan keinginan yang tidak baik dan dengarlah Roh Kudus kemudian kita menerima firman itu dengan sepenuh hati, percaya dan melakukannya. Dengan begitu hidup kita akan mampu menghasilkan buah yang baik bagi kemuliaan Tuhan dan bagi sesama.”

Selamat mengolah hati dan hidup, selamat berbuah. Amin.

%d bloggers like this: