Rendahkanlah Hatimu dan Kasihilah Yang Lemah

Lukas 14: 1, 7-14

 

Dari Nats di atas dapat dipahami bahwa Lukas hendak menyampaikan bahwa pelajaran ini bukan semata-mata merupakan sebuah kisah tentang bagaimana Yesus menegur dan memperingatkan orang-orang Farisi dan ahli Taurat agar mereka sadar diri, tidak bangga terhadap diri mereka yang sesungguhnya juga butuh anugerah dari Tuhan, melainkan belajar merespon undangan Tuhan untuk berharap dan bergantung kepada Allah.

Lukas juga menuliskan kisah ini agar menjadi sebuah pelajaran berharga bagi para murid Yesus, yang adalah anggota-anggota dari Kerajaan Allah, agar mereka belajar merendahkan diri. Sekali lagi perumpamaan dalam kisah ini tidak terlepas dari konsep Kerajaan Allah. Dengan demikian, saya ingin mengajak kita berefleksi terhadap 3 poin berikut:

  1. Sebagaimana orang-orang Farisi dan para ahli Taurat mempunyai fakta-fakta yang membanggakan dalam hidupnya, kita masing-masingpun diberi anugerah dan talenta yang unik, yang sesuai dengan kesanggupan kita untuk melayani Tuhan. Tuhan tidak ingin kita membangga-banggakan apa yang Tuhan berikan itu. Sebab kelebihan atau talenta itu diberikan bukan untuk di bangga-banggakan, melainkan digunakan untuk melayani Tuhan. Yang melayani Tuhan dalam Kerajaan Allah, bukanlah kita sendirian. Orang-orang percaya lain pun diberikan kelebihan dan talenta untuk melayani Tuhan juga. Dengan demikian, poin yang saya tekankan ialah, mari kita menyadari bahwa kita ini miliknya Tuhan, sama seperti mereka. Kita ini hamba-hambanya Tuhan, sama seperti mereka. Kita ini butuh untuk berharap dan bergantung kepada anugerah Tuhan, sama seperti mereka.
  2. Dari poin ini, maka sikap kita kepada orang-orang percaya lainnya yang dalam kondisi membutuhkan uluran tangan semestinya bukan merendahkan, melainkan menghargai mereka. Sebab Tuhan pun menghargai mereka, sebagaimana Tuhan juga menghargai kita melalui memberikan talenta dan kelebihan-kelebihan tertentu.
  3. Ketika kita dalam hidup ini senantiasa sadar diri dan bisa menempatkan diri secara tepat dihadapan Tuhan dan sesama, maka kita akan terlatih menjadi orang-orang yang semakin lama karakternya semakin rendah hati. Ini adalah sebuah proses panjang yang harus kita jalani.

Akhir kata, jalan kepada kemuliaan atau penghormatan yang asalnya dari Tuhan, dimulai dari kerendahan hati. Amin!

%d bloggers like this: