Hello world!

Posted by: | Posted on: July 25, 2014

Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!


PERAYAAN PASKAH 2013 PEMUDA GKJ WKM

Posted by: | Posted on: March 31, 2013

Poster Paskah 2013 Komisi Pemuda GKJ WKM


Berlaku Adil Menyemai Kedamaian

Posted by: | Posted on: March 30, 2013

Bacaan Alkitab : Filipi 4 : 2-9

Dalam kehidupan sehari- hari kita sering mendapati tindakan yang timpang, yang tidak adil. Ada yang suka melihat sedikit kekurangan pada orang lain padahal (mungkin) banyak sekali kekurangan pada dirinya sendiri. Bahkan kadang ada orang yang membesar-besarkan suatu masalah yang sebenarnya masalah sepele sehingga menjadi masalah yang lebih besar atau istilahnya dalam ungkapan “ kriwikan dadi grojokan “.

Kehidupan kita sehari-hari selalu terhubung satu dengan yang lain. Sikap orang lain terhadap kita bisa jadi merupakan respon dari apa yang kita lakukan. Misalnya ketika kita tidak ramah kepada orang disekitar kita menjadikan mereka tidak peduli kepada kita. Ketika mereka tidak peduli kepada kita, lalu seringkali lebih memarahi mereka lalu orang itu diberi cap ”Egois” padahal tanpa kita sadari kita turut ambil bagian terhadap apa yang dilakukan orang tersebut.

Melalui pengorbanan Tuhan Yesus di Golgota, apa yang seharusnya ditanggung dunia sudah ditanggung olehNya (Yoh 1: 29). Kita yang percaya “sebagai manusia yang baru karena manusia yang lama sudah pergi” kini saatnya kita berlaku adil kepada diri  sendiri maupun bagi orang lain dalam pertolongan Tuhan disertai niat yang sungguh-sungguh.

Untuk berlaku adil, kadang kita perlu mengorbankan ego atau kepentingan kita. Kalau kita bisa melakukannya kita berarti menyemai kedamaian. Marilah kita bersuka cita dalam Tuhan, agar kebaikan hati kita terpancar bagi orang disekitar kita,serta menyerahkan segala kekuatiran kita kepada Tuhan dalam doa dan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus ( Fil 4: 7)


Sambutlah Sang Raja Damai

Posted by: | Posted on: March 23, 2013

Yohanes 12: 12-19

Hari ini orang kristen memasuki masa raya minggu Palmarum, yaitu mengingat dan merayakan peristiwa Yesus memasuki Yerusalem disambut dan dielu-elukan sebagai Raja oleh orang banyak lima hari sebelum penyaliban (Jumat Agung). Mereka menyambut Yesus dengan melambai-lambaikan daun palma sambil berkata:” Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel !”

Mereka yakin bahwa Yesuslah Raja dan juga Mesias yang dijanjikan Allah untuk menyelamatkan mereka dari penindasan dan belenggu penjajah, karena mereka telah melihat wibawa dan kuasa yang ada pada Yesus. Karena keyakinannya itu maka mereka menyambut dan mengelu-elukan Yesus dengan melambai-lambaikan daun Palma.

Hosana… yang artinya selamatlah kami, menjadi ungkapan pengharapan dan sekaligus keyakinan mereka kepada Yesus sebagai Raja yang dari Allah yang akan menyelamatkan dan membawa perdamaian bagi mereka, untuk itu mereka melambai-lambaikan daun palma sebagai lambang perdamaian. Yesus Sang Raja datang ke Yerusalem dengan menunggang keledai,ini juga sebagai simbol bahwa Sang Raja yang  rendah hati datang untuk berdamaidengan orang Yerusalem.

Menyambut Raja (bisa diartikan juga pemimpin) biasanya dilakukan dengan persiapan yang super istimewa. Jalan dipersiapkan dengan baik, tempat-tempat dibersihkan dan steril dari gangguan keamanan, bahkan penyambutan dikanan kiri jalan juga disiapkan dengan berbagai cara. Begitulah kita menyambut sang pemimpin. Yesus Sang Raja Damai yang datang ke Yerusalem juga disambut dengan meriah dengan simbol-simbolperdamaian, namun itu akan berubah dengan begitu cepatnya ketika orang-orang Yerusalem kemudian meminta Yesus untuk disalibkan.

Kita manusia sebagai hamba, apakah benar-benar siap menyambut Sang Raja Damai dengan penuh rasa suka cita dan perdamian?.

Mari Sambutlah Sang Raja dengan penuh damai seperti seorang hamba yang menunggu kedatangan Tuannya. HOSANA !!!

 

Yohanes 12:12-19

Yesus dielu-elukan di Yerusalem

12:12 Keesokan harinya ketika orang banyak yang datang merayakan pesta mendengar, bahwa Yesus sedang di tengah jalan menuju Yerusalem, 12:13 mereka mengambil daun-daun palem, dan pergi menyongsong Dia sambil berseru-seru: “Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel!” 12:14 Yesus menemukan seekor keledai muda lalu Ia naik ke atasnya, seperti ada tertulis: 12:15 “Jangan takut, hai puteri Sion, lihatlah, Rajamu datang, duduk di atas seekor anak keledai.” 12:16 Mula-mula murid-murid Yesus tidak mengerti akan hal itu, tetapi sesudah Yesus dimuliakan, teringatlah mereka, bahwa nas itu mengenai Dia, dan bahwa mereka telah melakukannya juga untuk Dia. 12:17 Orang banyak yang bersama-sama dengan Dia ketika Ia memanggil Lazarus keluar dari kubur dan membangkitkannya dari antara orang mati, memberi kesaksian tentang Dia. 12:18 Sebab itu orang banyak itu pergi menyongsong Dia, karena mereka mendengar, bahwa Ia yang membuat mujizat itu. 12:19 Maka kata orang-orang Farisi seorang kepada yang lain: “Kamu lihat sendiri, bahwa kamu sama sekali tidak berhasil, lihatlah, seluruh dunia datang mengikuti Dia.”


Minggu Paskah [31 Maret 2013]

Posted by: | Posted on: March 17, 2013

Paskah (bahasa Yunani: Πάσχα atau Páscha) adalah perayaan terpenting dalam tahun liturgi gerejawi Kristen. Bagi umat Kristen, Paskah identik dengan Yesus, yang oleh Paulus disebut sebagai “anak domba Paskah”; jemaat Kristen hingga saat ini percaya bahwa Yesus disalibkan, mati dan dikuburkan, dan pada hari yang ketiga bangkit dari antara orang mati. Paskah merayakan hari kebangkitan tersebut dan merupakan perayaan yang terpenting karena memperingati peristiwa yang paling sakral dalam hidup Yesus.

Paskah juga merujuk pada masa di dalam kalender gereja yang disebut masa Paskah, yaitu masa yang dirayakan dulu selama empat puluh hari sejak Minggu Paskah (puncak dari Pekan Suci) hingga hari Kenaikan Yesus namun sekarang masa tersebut diperpanjang hingga lima puluh hari, yaitu sampai dengan hari Pentakosta (yang artinya “hari kelima puluh” – hari ke-50 setelah Paskah, terjadi peristiwa turunnya Roh Kudus). Minggu pertama di dalam masa Paskah dinamakan Oktaf Paskah oleh Gereja Katolik Roma. Hari Paskah juga mengakhiri perayaan Pra-Paskah yang dimulai sejak empat puluh hari sebelum Kamis Putih, yaitu masa-masa berdoa, penyesalan, dan persiapan berkabung.

Paskah merupakan salah satu hari raya yang berubah-ubah tanggalnya (dalam kekristenan disebut dengan perayaan yang berpindah) karena disesuaikan dengan hari tertentu (dalam hal ini hari Minggu), bukan tanggal tertentu di dalam kalender sipil. Hari raya-hari raya Kristen lainnya tanggalnya disesuaikan dengan hari Paskah tersebut dengan menggunakan sebuah formula kompleks. Paskah biasanya dirayakan antara akhir bulan Maret hingga akhir bulan April (ritus Barat) atau awal bulan April hingga awal bulan Mei (ritus Timur) setiap tahunnya, tergantung kepada siklus bulan. Setelah ratusan tahun gereja-gereja tidak mencapai suatu kesepakatan, saat ini semua gereja telah menerima perhitungan Gereja Aleksandria (sekarang disebut Gereja Koptik) yang menentukan bahwa hari Paskah jatuh pada hari Minggu pertama setelah Bulan Purnama Paskah, yaitu bulan purnama pertama yang hari keempat belasnya (“bulan purnama” gerejawi) jatuh pada atau setelah 21 Maret (titik Musim Semi Matahari/vernal equinox gerejawi).

Minggu Paskah bukan perayaan yang sama (namun masih berhubungan) dengan Paskah Yahudi (bahasa Ibrani: פסח atau Pesakh) dalam hal simbolisme dan juga penanggalannya. Bahasa Indonesia tidak memiliki istilah yang berbeda untuk Paskah Pesakh (Yahudi) dan Paskah Paskha (Kristen) sebagaimana beberapa bahasa Eropa yang mempunyai dua istilah yang berbeda, oleh sebab itu kata Paskah dapat memiliki dua arti yang berbeda di dalam bahasa Indonesia.

Banyak elemen budaya, termasuk kelinci Paskah dan telur Paskah, telah menjadi bagian dari perayaan Paskah modern, dan elemen-elemen tersebut biasa dirayakan oleh umat Kristen maupun non-Kristen. Paskah merupakan perayaan tertua di dalam gereja Kristen, penghubung antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Paus Leo Agung (440-461) menekankan pentingnya Paskah dan menyebutnya festum festorum – perayaan dari semua perayaan, dan berkata bahwa Natal hanya dirayakan untuk mempersiapkan perayaan Paskah.

Menurut tradisi Sinoptik, Paskah menunjuk pada Perjamuan Kudus, yang didasari dari Perjamuan Malam, perjamuan perpisahan antara Yesus dan murid-murid Yesus. Pada malam itu sebelum Yesus dihukum mati, Yesus memberikan makna baru bagi Paskah Yahudi. Roti dilambangkan sebagai tubuh Yesus dan anggur dilambangkan sebagai darah Yesus, yaitu perlambangan diri Yesus sebagai korban Paskah. Rasul Yohanes dan Pauluslah yang mengaitkan kematian Yesus sebagai penggenapan Paskah Perjanjian Lama (Yesus wafat pada saat domba-domba Paskah Yahudi dikorbankan di kenisah atau Bait Allah). Kematian dan kebangkitan Yesus inilah yang kemudian diasosiasikan dengan istilah Paskah dalam kekristenan.

Karena Paskah dirayakan oleh gereja-gereja Kristen dengan suatu sakramen Ekaristi/ Perjamuan Kudus, maka sakramen tersebut dapat pula disebut sebagai Perjamuan Paskah Kristen, atau Perjamuan Kudus Jumat Agung, yang berbeda dari Perjamuan Paskah Yahudi. Banyak gereja Kristen saat ini merayakan perjamuan tersebut lebih dari setahun sekali agar jemaat gereja selalu diingatkan akan peristiwa Paskah.

Di dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, kata Paskah disebutkan sebanyak 80 kali dalam 72 ayat sementara di dalam terjemahan BIS disebutkan sebanyak 86 kali dalam 77 ayat.

 


Sabtu Sunyi [30 Maret 2013]

Posted by: | Posted on: March 17, 2013

Ketika orang yang kita kasihi meninggalkan kita untuk selama-lamanya, apakah yang kita rasakan? Sedih, bingung, kehilangan, tidak terima, tidak percaya, dan lain-lain hal yang mungkin kita rasakan. Kira-kira mungkin seperti inilah yang dirasakan oleh orang-orang terdekat Yesus pada hari setelah Ia mati di kayu salib. Orang yang selama ini mereka kasihi, mengayomi mereka, mengajar mereka, sekarang tidak bersama dengan mereka lagi. Secara manusiawi, pasti ada goncangan psikis yang muncul ketika orang yang kita kasihi pergi meninggalkan kita. Dalam bacaan kita hari ini, dikatakan bahwa murid-murid perempuan Yesus, Maria Magdalena dan Maria yang lainnya duduk di depan kubur Yesus. Bisa dipastikan perasaan yang mereka rasakan pasti tidak jauh dari terguncang dan kesepian. Tidak jauh beda perasaan para murid yang lainnya. Mungkin mereka telah hancur hati dan kehilangan harapan.

Dalam tradisi gereja tertentu, hari Sabtu antara Jumat Agung dan Paskah disebut sebagai Sabtu Sunyi. Apa maknanya? Apa yang harus dilakukan pada hari Sabtu Sunyi? Mungkin tidak banyak dari kita sekalian yang menghayati makna Sabtu Sunyi. Ketika kita diliputi oleh perasaan yang tidak menentu karena kematian Yesus di kayu salib, Sabtu Sunyi ada sebagai hari di mana kita seharusnya merenungkan peristiwa kematian Yesus. Direnungkan sebagai apa? Direnungkan sebagai sebuah momen di mana kita berjaga dan berharap akan kebangkitan Yesus. Sabtu Sunyi adalah sebuah ruang kosong yang di dalamnya Allah bekerja untuk membuktikan bahwa Yesus pernah ada dalam alam kubur, hal yang sangat manusiawi karena Yesus juga sepenuhnya manusia. Melalui Sabtu Sunyi kita disadarkan juga bahwa pada saat inilah Yesus berjuang melawan kematian, melawan kuasa kegelapan yang sedang membelenggu manusia berdosa.

Sabtu Sunyi merupakan momen kita seharusnya berjaga dan berdoa, bukan merasa takut dan gentar. Biarlah kita menjadi murid-murid Kristus yang percaya bahwa keesokan hari, batu besar yang menutup kubur itu akan terguling, dan Yesus telah bangkit.

 


Jumat Agung [29 Maret 2013]

Posted by: | Posted on: March 17, 2013

Jumat Agung adalah Hari Jumat sebelum Minggu Paskah, hari peringatan Penyaliban Yesus Kristus dan wafatNya di Golgota.

Hari kematian itu sendiri tidak dicatat jelas di Alkitab. Ada yang menduga jatuh pada hari Rabu, tetapi lebih banyak yang menempatkan pada hari Jumat. Berdasarkan rincian kitab suci mengenai Pengadilan Sanhedrin atas Yesus, dan analisis ilmiah, peristiwa penyaliban Yesus sangat mungkin terjadi pada hari Jumat, namun tanggal terjadinya tidak diketahui dengan pasti, dan akhir-akhir ini diperkirakan terjadi pada tahun 33 Masehi, oleh dua kelompok ilmuwan, dan sebelumnya diperkirakan terjadi pada tahun 34 Masehi oleh Isaac Newton via perhitungan selisih-selisih antara kalender Yahudi dan kalender Julian dan besarnya bulan sabit.

Yesus di hadapan Mahkamah Agama

Setelah sebelumnya mengadakan Perjamuan Malam (Matius 26:17-25, Markus 14:12-25,Lukas 22:7-23, Yohanes 13:21-30), Yesus bersama-sama dengan murid-murid-Nya pergi ke Taman Getsemani. Di sana Yesus berdoa. Setelah Yesus berdoa, maka datanglah Yudas, “dan bersama-sama serombongan besar orang yang membawa pedang dan pentung, disuruh oleh imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi” Matius 26:47. Yesus lalu dibawa ke hadapan Mahkamah Agama Yahudi, di depan Imam Besar Kayafas.

Imam-imam kepala, malah seluruh Mahkamah Agama mencari kesaksian palsu terhadap Yesus, supaya Ia dapat dihukum mati, tetapi mereka tidak memperolehnya, walaupun tampil banyak saksi dusta. Tetapi akhirnya tampillah dua orang, yang mengatakan: “Orang ini berkata: Aku dapat merubuhkan Bait Allah dan membangunnya kembali dalam tiga hari.” Lalu Imam Besar itu berdiri dan berkata kepada-Nya: “Tidakkah Engkau memberi jawab atas tuduhan-tuduhan saksi-saksi ini terhadap Engkau?” Tetapi Yesus tetap diam. Lalu kata Imam Besar itu kepada-Nya: “Demi Allah yang hidup, katakanlah kepada kami, apakah Engkau Mesias, Anak Allah, atau tidak.” Jawab Yesus: “Engkau telah mengatakannya. Akan tetapi, Aku berkata kepadamu, mulai sekarang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di langit.” Maka Imam Besar itu mengoyakkan pakaiannya dan berkata: “Ia menghujat Allah. Untuk apa kita perlu saksi lagi? Sekarang telah kamu dengar hujat-Nya. Bagaimana pendapat kamu?” Mereka menjawab dan berkata: “Ia harus dihukum mati!” Lalu mereka meludahi muka-Nya dan meninju-Nya; orang-orang lain memukul Dia, dan berkata: “Cobalah katakan kepada kami, hai Mesias, siapakah yang memukul Engkau?” — Matius 26:59-68.

Sementara itu Petrus yang mengikuti hingga di halaman Mahkamah Agama dikenali sebagai pengikut Yesus namun ia menyangkal tiga kali, dan pada saat itu berkokoklah ayam. Petrus yang teringat apa yang dikatakan Yesus kepadanya: “Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.” Lalu Petrus pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya. Matius 26:75.

Yesus di hadapan Pilatus

Karena yang berhak menghukum mati seseorang hanyalah pemerintah Romawi, maka Yesus dibawa ke hadapan Pontius Pilatus. Lalu Yesus dihadapkan kepada wali negeri. Dan wali negeri bertanya kepada-Nya: “Engkaukah raja orang Yahudi?” Jawab Yesus: “Engkau sendiri mengatakannya. “Tetapi atas tuduhan yang diajukan imam-imam kepala dan tua-tua terhadap Dia, Ia tidak memberi jawab apapun. Maka kata Pilatus kepada-Nya: “Tidakkah Engkau dengar betapa banyaknya tuduhan saksi-saksi ini terhadap Engkau?” Tetapi Ia tidak menjawab suatu katapun, sehingga wali negeri itu sangat heran. … Wali negeri menjawab dan berkata kepada mereka: “Siapa di antara kedua orang itu yang kamu kehendaki kubebaskan bagimu?” Kata mereka: “Barabas.” Kata Pilatus kepada mereka: “Jika begitu, apakah yang harus kuperbuat dengan Yesus, yang disebut Kristus?” Mereka semua berseru: “Ia harus disalibkan!” Katanya: “Tetapi kejahatan apakah yang telah dilakukan-Nya?” Namun mereka makin keras berteriak: “Ia harus disalibkan!” Ketika Pilatus melihat bahwa segala usaha akan sia-sia, malah sudah mulai timbul kekacauan, ia mengambil air dan membasuh tangannya di hadapan orang banyak dan berkata: “Aku tidak bersalah terhadap darah orang ini; itu urusan kamu sendiri!” Dan seluruh rakyat itu menjawab: “Biarlah darah-Nya ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami!” Lalu ia membebaskan Barabas bagi mereka, tetapi Yesus disesahnya lalu diserahkannya untuk disalibkan. —Matius 27:11-14, 23-26.

Yesus disiksa dan diolok-olok

the-passionSetelah Yesus divonis hukuman salib oleh Pontius Pilatus, Yesus disiksa terlebih dahulu seperti yang umum dilakukan pada zaman Romawi. Kemudian serdadu-serdadu wali negeri membawa Yesus ke gedung pengadilan, lalu memanggil seluruh pasukan berkumpul sekeliling Yesus. Mereka menanggalkan pakaian-Nya dan mengenakan jubah ungu kepada-Nya. Mereka menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya, lalu memberikan Dia sebatang buluh di tangan kanan-Nya. Kemudian mereka berlutut di hadapan-Nya dan mengolok-olokkan Dia, katanya: “Salam, hai Raja orang Yahudi!” Mereka meludahi-Nya dan mengambil buluh itu dan memukulkannya ke kepala-Nya. Sesudah mengolok-olokkan Dia mereka menanggalkan jubah itu dari pada-Nya dan mengenakan pula pakaian-Nya kepada-Nya. Kemudian mereka membawa Dia ke luar untuk disalibkan. —Matius 27:27-31

Yesus disalibkan

yesus-disalibSetelah disesah, maka Yesus dihukum mati di atas kayu salib di Bukit Golgota atau Kalvari. Sesudah menyalibkan Dia mereka membagi-bagi pakaian-Nya dengan membuang undi. Lalu mereka duduk di situ menjaga Dia. Dan di atas kepala-Nya terpasang tulisan yang menyebut alasan mengapa Ia dihukum: “Inilah Yesus Raja orang Yahudi.” Bersama dengan Dia disalibkan dua orang penyamun, seorang di sebelah kanan dan seorang di sebelah kiri-Nya. Orang-orang yang lewat di sana menghujat Dia dan sambil menggelengkan kepala, mereka berkata: “Hai Engkau yang mau merubuhkan Bait Suci dan mau membangunnya kembali dalam tiga hari, selamatkanlah diri-Mu jikalau Engkau Anak Allah, turunlah dari salib itu!” Demikian juga imam-imam kepala bersama-sama ahli-ahli Taurat dan tua-tua mengolok-olokkan Dia dan mereka berkata: “Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan! Ia Raja Israel? Baiklah Ia turun dari salib itu dan kami akan percaya kepada-Nya. Ia menaruh harapan-Nya pada Allah: baiklah Allah menyelamatkan Dia, jikalau Allah berkenan kepada-Nya! Karena Ia telah berkata: Aku adalah Anak Allah.” Bahkan penyamun-penyamun yang disalibkan bersama-sama dengan Dia mencela-Nya demikian juga. —Matius 27:35-44

Yesus mati

Yesus pun mati di atas kayu salib, bukan karena Ia mati lemas atau kehabisan darah, tetapi Ia sendiri yang menyerahkan nyawa-Nya ke tangan Bapa-Nya. Yesus berseru pula dengan suara nyaring lalu menyerahkan nyawa-Nya. Dan lihatlah, tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah dan terjadilah gempa bumi, dan bukit-bukit batu terbelah, dan kuburan-kuburan terbuka dan banyak orang kudus yang telah meninggal bangkit. Dan sesudah kebangkitan Yesus, merekapun keluar dari kubur, lalu masuk ke kota kudus dan menampakkan diri kepada banyak orang. Kepala pasukan dan prajurit-prajuritnya yang menjaga Yesus menjadi sangat takut ketika mereka melihat gempa bumi dan apa yang telah terjadi, lalu berkata: “Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah.” —Matius 27:50-54

 

Sumber : Wikipedia

 


Kamis Putih [28 Maret 2013]

Posted by: | Posted on: March 16, 2013

Kamis Putih adalah hari Kamis sebelum Paskah, pada Hari Raya Pekan Suci ini umat Kristen mempunyai tradisi memperingati Perjamuan Malam terakhir yang dipimpin oleh Yesus. Hari ini adalah salah satu hari terpenting dalam kalender Gereja. Ini adalah hari pertama dari hari raya Paskah, yang dimulai pada pukul 6 sore, dan berlangsung 7 hari. Hari Kamis Putih ini juga disebut Kamis Suci. (bahasa Inggris: Holy Thursday).

Ritual Perjamuan Malam setelah ini pada setiap kebaktian diperingati sebagai perayaan Perjamuan Kudus. Pada kebaktian malam, pendeta juga mencuci kaki umat sebagai peringatan Yesus yang mencuci kaki para muridnya dalam perjamuan terakhir, pelayanan Yesus di dunia sebelum kematian-Nya.

Dasar Teologi

Pelayanan Kamis Putih secara tradisional dan menyejarah dapat mengenangkan kita pada peristiwa-peristiwa di mana Yesus mendekati masa-masa kematian-Nya. Peristiwa-peristiwa yang sangat kaya makna dan penting. Ini adalah pengenangan pada perempuan yang meminyaki Yesus dengan parfum dari buli-buli dan mengusapnya dengan rambutnya. Ini juga pengenangan akan perjamuan malam yang dilakukan Yesus, akhir masa Yesus berbagi roti dengan para murid. Ini adalah tanda dari keteladanan Yesus yang mereka semua pengikutnya menyebutnya pelayan. dan ini juga pengenangan akan pengkianatan yang dilakukan Petrus dan juga Yudas.

Ibadah Kamis Putih adalah pelayanan doa, menggambarkan peran Yesus yang telah datang ke dunia membawa terang, terang yang segera padam. Pelayanan ini memiliki sebuah karunia sebagai garis luarnya sebagai sebuah lingkaran; terang (cahaya)-pelayanan-Perjamuan Kudus-pelayanan-terang. Terang Allah adalah terang dari penciptaan dan terang Kristus. Di dalam terang Kristus kita menemukan sebuah pesan, “Melayani”!

Pembasuhan Kaki Dalam Kamis Putih

Yesus membasuh kaki murid-muridPerintah untuk melakukan pembasuhan kaki ini hanya terdapat dalam Injil Yohanes dan tidak terdapat dalam Injil sinoptik (Matius, Markus, dan Lukas) lainnya. Kaki adalah bagian yang kotor dalam tubuh manusia. Kaki manusia menginjak debu tanah. Pembasuhan merupakan sebuah bentuk dari simbolisasi tata gerak. Kegiatan membasuh kaki adalah hal yang sudah biasa dilakukan oleh orang Yahudi pada zaman Yesus. Proses pembasuhan kaki itu biasanya dilakukan oleh bawahan terhadap atasan. Dalam dunia Yunani, pembasuhan kaki adalah hal yang hina, yang biasa dilakukan oleh budak.

Namun yang istimewa di sini, pembasuhan kaki ini dilakukan oleh Yesus yang adalah Guru kepada murid-muridnya. Yesus melakukan sebuah ritual yang biasa dilakukan dengan cara yang tidak berbeda. Yesus melakukan pekerjaan yang seharusnya tidak layak dilakukan oleh seorang Guru. Tata gerak membasuh kaki ini menyimbolkan suatu teladan untuk merendahkan diri dan melayani. Yesus melakukan pekerjaan yang seharusnya tidak dilakukan oleh seorang Guru kepada murid-Nya. Tindakan Yesus membasuh kaki merupakan tindakan simbolis yang menyimbolkan penyerahan diri, pembersihan, pengampunan, pembaharuan, kemuridan dan ibadah. Penyerahan diri yang dimaksudkan adalah penyerahan diri Yesus dalam kematian untuk membersihkan orang lain. Pembasuhan kaki yang Yesus lakukan juga menyimbolkan kerendahan hati dan keinginan untuk menjadi hamba yang mau melayani orang yang hina sekalipun.

Sumber : Wikipedia


Sudahkah Aku Berkorban Bagi Mereka Yang Menderita

Posted by: | Posted on: March 16, 2013

……. sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. (Matius 25 : 40b)

Menurut data dari Badan Pusat Statistik, jumlah penduduk miskin di Indonesia pada Maret 2012 mencapai 29,13 juta orang (11,96 persen), sungguh suatu jumlah yang tidak sedikit dan kalaupun diupayakan mengurangi jumlah tersebut maka diperlukan waktu puluhan tahun.

Topik bahasan minggu ini serta nats di atas sungguh menyadarkan bagi kita semua, sebenarnya betapa penting peran yang dapat dilakukan Gereja pada umumnya dan warga Kristen pada khususnya di bumi Indonesia tercinta ini.

Jika kita dapat mengimplementasikan pesan Tuhan Yesus sebagaimana nats bacaan di atas, maka Gereja (umat Kristen) berarti berperan  dalam menyejahterakan masyarakat Indonesia.

Mengurangi jumlah penduduk miskin yang begitu banyak jumlahnya, jelas tidak mungkin hanya diserahkan kepada Pemerintah, perlu partisipasi dari seluruh elemen masyarakat dan tidak terkecuali Gereja (umat Kristen).

Sekolah (lembaga pendidikan Kristen), Rumah Sakit Kristen cukup banyak, tapi pertanyaannya apakah kedua lembaga tersebut melayani warga miskin? Sungguh ironis berita akhir-akhir ini ada seorang bayi yang meninggal karena ditolak 8 rumah sakit dengan alasan ruang ICU sudah penuh, dan mungkin karena orangtuanya termasuk kategori “miskin”.

Gereja (warga Kristen) sudah waktunya untuk melakukan langkah konkrit untuk ikut menanggulangi masalah kemiskinan di Indonesia. Langkah tersebut tentunya  memerlukan dana dan pemikiran segenap warga.

Langkah kecil dan membumi, kalau Gereja sendiri masing-masing mampu membebaskan warganya dari kategori “menderita”, maka itu sebenarnya sudah ikut berpartisipasi dalam mengurangi jumlah penduduk miskin Indonesia. Baru setelah itu tercapai, Gereja melangkah ke dunia luar.

Beratkah tugas tersebut (membebaskan warga Gereja sendiri untuk bebas dari kategori menderita)? Tentu tidak, hal itu bukanlah ibaratnya kita membantu keluarga sendiri. Upaya tersebut tentunya tidak cukup hanya dengan memberi santunan bulanan, akan lebih nyata kalau Gereja (warga) bisa mencarikan lapangan pekerjaan, modal usaha dan sebagainya.

Marilah kita mulai langkah kecil, dari kalangan Gereja kita sendiri. Kita laksanakan pesan Tuhan Yesus, tidak sekedar kita ucapkan dalam doa, tapi kita (Gereja/warga) benar-benar menjadi pelaku firman dengan langkah nyata. Amin.


Berani Berkorban Demi Keadilan & Perdamaian

Posted by: | Posted on: March 9, 2013

Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. (Kolose 3:23)

Masa pra paskah mengingatkan kembali kepada kita akan pengorbanan Tuhan di atas kayu salib. Kita renungkan kembali pengorbanan Tuhan untuk menebus dosa kita. Semua ini dilakukanNya karena KASIHNYA kepada kita, anak-anakNya.

Oleh kasih Tuhan itu, mari kita respon dalam kehidupan kita sehari-hari terlebih pada masa-masa sekarang ini, di mana rasa keadilan dan perdamaian terasa jauh dari kehidupan kita.Oleh karenanya kita anak-anak terang diminta untuk berani berkorban demi keadilan dan perdamaian. Kita lakukan “TUGAS” kita sebaik baiknya hanya demi hormat dan kemuliaan nama Tuhan.

Di manapun Tuhan menempatkan kita ,sebagai orang tua, anak, warga gereja maupun warga masyarakat hendaknya kita mencontoh pengorbanan Tuhan Yesus untuk menebus dosa kita.

Mungkin lingkungan kita saat ini akan memandang sinis bahkan mencemooh kita dengan apa yang kita lakukan, tapi kerja kita tidak akan sia-sia. Kita pandang salib Tuhan sebagai pemacu pelayanan kita. Kita dasari tugas kita dengan firman Tuhan seperti yang tertulis dalam Kolose 3:23, yang demikian firman Tuhan “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia”.

Dengan ayat itu kita diajak untuk tulus dan sungguh-sungguh didalam kesediaan berkorban demi terwujudnya keadilan dan perdamaian.

Mengingat kesungguhan dan kerelaan Kristus didalam berkorban untuk perdamaian manusia dengan Allah yang kita hayati pada masa Pra Paskah ini, kiranya itu memberi teladan bagi kita didalam menjalani hidup yang Tuhan berikan kepada kita saat ini.

Tuhan memberkati kita. Amin.